Selasa, 25 September 2018 | 09:46 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Jumat, 01 Juni 2018 23:08

TPK Pelabuhan Panjang Antisipasi Angkutan Petikemas Beralih ke Tol Trans Sumatera

Aidikar M. Saidi

BANDAR LAMPUNG -

Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, terus meningkatkan layanan menghadapi persaingan dengan lintas penyeberangan Lampung-Tanjung Priok dan jalan tol Trans Sumatera.

Pasalnya, biaya angkutan petikemas melalui laut kini terlalu mahal dibandingkan dengan angkutan penyeberangan Jakarta-Lampung. Selain itu, apabila jalan tol Trans Sumatera beroperasi penuh maka angkutan petikemas diprediksi akan beralih ke jalur darat dan penyeberangan.

Sebagai contoh, kini angkutan petikemas ukuran 40 feet via penyeberangan Jakarta-Lampung hanya Rp3,4 juta tanpa CHC (container handling charges) dan THC (terminal handling charges), langsung diangkut ke TPK di Pelabuhan Tanjung Priok. 

Bila lewat laut menggunakan kapal petikemas, biayanya cukup mahal mulai dari biaya trucking ke pelabuhan dari gudang pemilik dan biaya freight kurang lebih Rp6 juta ditambah CHC dan THC Rp3 juta di pelabuhan muat dan bongkar. Itu pun belum masuk biaya relokasi ke TPK di pelabuhan tujuan.

Manager Area PT IPC TPK Panjang Suswantoro mengakui adanya jalan tol Tans Sumatra itu dampak yang pertama kali akan dirasakan TPK Panjang. Masalah ini akan menjadi ancaman bagi TPK Panjang ke depan.

"TPK Panjang saat ini terus meningkatkan pelayanan agar muatan tidak beralih ke angkutan darat," ujarnya kepada Translogtoday.

Salah satu bentuk level of service, kata Suswantoro, untuk memenuhi kebutuhan fasilitas reefer plug bagi pengguna jasa khususnya produk fresh fruitsudah ditambah plugging (alat colok listrik) sebanyak 50 unit yang direalisasikan secara bertahap.

Untuk tahap pertama telah rampung fasilitas reefer plug sebanyak 30 unit yang menelan kapasitas 500 Kilo Volt Ampere (KVA) listrik PLN. TPK Panjang juga mempersiapkan fasilitas pendukung berupa alat genset berkapasitas 400 KVA.

“Kami putuskan menambah 30 plugging pendukung reefer container, kini TPK Panjang memiliki 130 reefer plug. Sebelum para pengguna jasa teriak, kami mempersiapkan fasilitasnya terlebih dahulu,” tuturnya.

Ke depan, ungkap Suswantoro, TPK  Panjang akan mengganti strategi untuk angkutan muatan transhipment menjadi direct call dan ocean going

Stragegi itu dilakukan melihat perkembangan pasar fresh fruit yang naik 30% lebih, serta sesuai dengan permintaaan buyer di Amerika dan Asia, baik langsung negara tujuan maupun melalui Singapura.

Untuk diketahui, di Lampung terdapat pabrik olahan nenas modern yang produknya diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Dalam setahun, PT GGP yang memproduksi lebih dari 12 ribu petikemas nenas kaleng dan 10 juta boks fresh fruit (buah-buahan segar) berupa pisang, nenas, jambu kristal, dan buah segar lainnya. (hlz/hlz)


Komentar