Selasa, 25 September 2018 | 10:08 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 03 Juni 2018 09:34

Alur Masuk Pelabuhan Pulau Baai Dangkal, Pengapalan Ekspor Terhenti

Aidikar M. Saidi
Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu (Translogtoday/ams)

BENGKULU -

Pendangkalan alur masuk Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, hingga kini belum mampu diatasi sehingga pengapalan komoditas ekspor dari daerah itu terhenti.

Sedikitnya 2,3 juta ton batu bara setiap tahun kini sudah tidak bisa dikapalkan melalui Pelabuhan Pulau Baai. Pengapalan komoditas ekspor lainnya juga terhenti, kecuali menggunakan kapal petikemas dan tongkang angkutan domestik.

Kepala Kantor Syahbadar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pelabuhan Pulau Baai
M. Junaidin mengakui hingga kini belum ada solusi dan kepastian kapan pengapalan ekspor normal kembali.

"Sudah dilakukan pengerukan alur oleh PT Pelabuhan Indonesia II selama dua bulan terakhir, tapi kedalaman alur masih sekitar minus 5,7 meter," ujarnya kepada Translogtoday.

Dia mengatakan untuk bisa melayani kapal kapasitas 35.000 ton batubara dari Bengkulu dibutuhkan kedalaman alur minus 10 meter. Untuk mencapai kedalaman itu harus dilakukan pengerukan hingga 7 juta meter kubik lumpur.

Dari hasil pengerukan selama dua bulan terakhir, alur masuk sudah mencapai minus 5,7 meter, tetapi kedalaman itu belum mampu melayani kapal besar hanya bisa melayani tongkang dan kapal ukuran kecil

Masalah klasik yang tak kunjung usai di pelabuhan Pulau Baai adalah kondisi alur pelayaran yang selalu mengalami pendangkalan (sedimentasi). Oleh sebab itu, alur masuk harus dilakukan pengerukan secara berkala dan optimal.

Volume sedimentasi sangat tinggi, sehingga tidak ada opsi lain bagi alur pelayaran dan kolam pelabuhan Pulau Baai selain dikeruk.

Proyek Rutin

Pekerjaan pengerukan menjadi proyek rutin setiap 6 bulan sekali atau 3 kali setahun. Apabila terlambat dikeruk, kapal besar tidak dapat sandar di pelabuhan tersebut.

Kegiatan pengerukan di alur pelayaran sebanyak dua kali dalam setahun untuk mempertahankan kedalaman minus 10 meter.

Volume sedimentasi diperkirakan sebanyak 50.000 meter kubik per bulan atau rata-rata 600.000 meter kubik per tahun.

Biaya pengerukannya pun tidak sedikit. Sekali keruk (per enam bulan) biayanya sekitar Rp25 miliar. Artinya, dalam setahun biaya pengerukan mencapai Rp 50 miliar, bahkan bisa lebih apabila ada biaya ‘tak terduga'.

Berdasarkan keterangan tim Pelindo II Cabang Bengkulu, yang dipimpin oleh General Manager Hambar Wiriadi, lokasi terparah akibat sedimentasi berada di alur pelayaran spot 1.200 sepanjang 300 sampai 400 meter persegi. Pada spot itu, endapan material pasir telah mencapai permukaan.

Alur pelayaran tidak didukung pemeliharaan sandtrap yang optimal. Sandtrap telah menampung sekitar 6-7 juta meter kubik pasir (terlihat bagai daratan), hingga material pasir terpaksa beralih masuk alur.

Sepatutnya pengerukan alur pelayaran dan sandtrap di Pelabuhan Pulau Baai dilakukan oleh kapal keruk berkapasitas minimal 150.000 meter kubik agar kinerja kapal lebih optimal.

Pada akhir Maret 2018, alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai mulai dikeruk dari minus 5,5 mLws menjadi minus 10 mLws menggunakan kapal TSHD Kalimantan II Type Hopper kapasitas 4.000 meter kubik milik PT Rukindo.

Entah bagaimana, sedimentasi masih tinggi dan penanganan pengerukan yang kurang optimal. Praktis tak ada lagi kegiatan ekspor dari pelabuhan terbesar di Bengkulu itu sejak dua tahun terakhir.

Angkutan batubara hanya menggunakan tongkang (draft 5,7 meter), itu pun harus menunggu air laut pasang. (hlz/hlz)


Komentar