Rabu, 12 Desember 2018 | 05:01 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Angkutan Darat
Rabu, 06 Juni 2018 13:04

Meski Megap-megap, Gapasdap Siap Sukseskan Angkutan Lebaran 2018

Translog Today
Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo (Translogtoday)

JAKARTA - Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) siap melayani angkutan Lebaran 2018 di seluruh lintasan penyeberangan di Indonesia.

Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan seluruh anggota untuk menyukseskan angkutan Lebaran pada tahun ini.

"Kami berharap angkutan penyeberangan tahun ini berjalan lancar dan zero accident, seperti pada tahun lalu. Meskipun tantangan angkutan ini makin berat, kami siap menyukseskan angkutan Lebaran sebagai amaliah kami bagi masyarakat dan bangsa," kata Khoiri saat buka puasa bersama Gapasdap di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Selain diikuti pengurus dan anggota Gapasdap, acara buka puasa bersama juga dihadiri oleh Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono dan Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Hindro Surahmat.

Khoiri mengatakan angkutan penyeberangan merupakan sektor transportasi massal yang sangat strategis, terutama saat libur Lebaran. Apalagi, tuturnya, angkutan ini tidak menerapkan tarif batas atas dan bawah seperti moda transportasi lainnya sehingga masyarakat tidak terbebani.

"Kami mengimbau pengguna jasa penyeberangan tidak melakukan perjalanan mudik pada hari atau waktu yang sama guna menghindari antrean panjang di pelabuhan," ujarnya. Dia memprediksi puncak arus mudik di lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni akan terjadi pada Jumat (8/6/2018) sore.

bukber gapasdap

Khoiri mengakui angkutan penyeberangan sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain iklim usaha tidak kondusif, kondisi perekonomian juga kurang mendukung, termasuk dampak depresiasi rupiah terhadap dolar AS terhadap biaya operasional kapal.

"Jumlah kapal terus bertambah di sejumlah lintasan komersial. Bahkan di Merak-Bakauheni kini sudah ada 70 kapal, tetapi rata-rata hanya bisa beroperasi 12 hari dalam sebulan," ungkapnya.

Kondisi itu, menurut Khoiri, akibat pemerintah terus menambah izin kapal beroperasi di Merak-Bakauheni. Pemerintah juga berencana menerapkan kapal ukuran besar minimal 5.000 GTR di lintasan padat itu sehingga menambah inefisiensi.

Kebijakan pemerintah itu dinilai sangat merugikan angkutan penyeberangan karena biaya makin bengkak. Akibatnya, pelayanan kepada pengguna jasa akan berkurang, bahkan bisa mempengaruhi faktor keselamatan pelayaran dan penyeberangan terhenti.

Oleh karena itu, dia menyambut baik rencana Kementerian Perhubungan untuk menutup lintasan Bojonegara, Banten, yang selama ini dilayani kapal LCT (landing craft tank).

Keputusan itu disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau Pelabuhan Merak, Banten, pekan lalu. Menhub juga melarang kapal LCT di lintasan itu untuk mengangkut penumpang.

Menhub juga diminta segera mengevaluasi dan merevisi Peraturan Menhub PM No. 80 Tahun 2015 yang melonggarkan izin kapal, serta PM No. 88 Tahun 2014 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Lintas Merak-Bakauheni. (hlz/hlz)


Komentar