Minggu, 21 Oktober 2018 | 20:18 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Sabtu, 09 Juni 2018 13:24

Jasa Armada Indonesia Raup Laba Bersih Rp120,4 Miliar

Ire Djafar

JAKARTA -

PT Jasa Armada Indonesia (JAI) atau IPC Marine berhasil membukukan laba bersih Rp120,4 miliar untuk tahun buku yang berakhir 2017. 

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta pada Rabu (6/6/2018) lalu menyepakati penggunaa laba sebagai deviden sebesar Rp35,6 miliar, sedangkan untuk cadangan Rp2,4 miliar dan laba ditahan Rp 82,3 miliar.

RUPS juga melaporkan penggunaan dana hasil penawaran umum Tahun 2017 sesuai dengan peraturan pasal 6 ayat (1) Peraturan OJK No. 30/POJK.04/2015 tentang realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum. 

Dari keseluruhan dana yang diperoleh sebesar Rp461,8 miliar, sebanyak Rp22,3 miliar telah dikeluarkan untuk IPO, dan dana yang belum digunakan Rp439,531 miliar.

“Dana yang belum digunakan tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito dan giro pada dua bank BUMN yaitu Bank BTN dan Bank Mandiri masing-masing Rp250 miliar dan Rp189,53 miliar,” ungkap Direktur JAI Herman Susilo pasca RUPS tersebut.

Selain menyetujui penggunaan laba, rapat menyepakati pengangkatan Herman Susilo sebagai Direktur JAI.  

Pengangkatan tersebut terhitung sejak RUPS tersebut sampai dengan ditutupnya RUPS Tahunan yang kelima pada 2023 dengan tetap memperhatikan peraturan perundang-undangan pasar modal dan tanpa mengurangi hak RUPS untuk memberhentikan sewaktu-waktu. 

JAI atau IPC Marine merupakan anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang bergerak di bidang layanan pemanduan dan penundaan kapal, angkutan laut dan layanan maritim.  

Divisi Kepanduan yang melakukan kegiatan pelayanan pemanduan dan penundaan mulai beroperasi sejak 1960 sebagai unit usaha Perusahaan Nasional (PN) Pelabuhan. 

Layanan pemanduan dan penundaan pada 1992 diubah menjadi unit usaha Pelindo II, seiring dengan perubahan nama PN Pelabuhan menjadi Pelindo II.

Dengan identitas baru Pelindo II pada 2012 dengan nama IPC (Indonesia Port Corporation), pada Juli 2013 unit usaha pemanduan dan penundaan di-spin-off menjadi PT Jasa Armada Indonesia dengan nama dagang IPC Marine Service. Ketika menjadi perusahaan terbuka, nama dagang ini diubah menjadi IPC Marine. 

Investasi Masif 

Sejak spin-off, IPC Marine melakukan investasi secara masif untuk perbaikan kualitas armada dan peningkatan kapasitas SDM sesuai standar internasional, di bawah sepervisi Thome Consulting Singapura.

Hasilnya, kualitas armada meningkat dari Grade 2.4 (48% dari skor tertinggi 100%) menjadi Grade 3.6 (72%). 

IPC Marine juga melakukan optimasi secara revolusioner di bidang pemeliharaan, perbaikan, dan sistem pengandaan barang. Hal ini dilakukan melalui strong corporate governance

Selain itu, peningkatan integritas SDM guna memastikan kualitas layanan dengan standar tertinggi serta tingkat profitabilitas secara berkelanjutan. Perusahaan juga meningkatkan kualitas dan memasarkan layanan VVIP dengan standar Zero Waiting Time.

Hingga saat ini, market JAI di luar Pelindo II berkembang, dan pendapatan meningkat 60% pada tahun pertama operasi penuh setelah spin-off

Dengan pengalaman operasi selama 55 tahun, total armada 70 unit kapal, kinerja pemanduan dan penundaan 52.000 kapal/tahun, melayani klien-klien ternama nasional dan asing, IPC Marine menjadi perusahaan paling berpengalaman, paling besar, dan paling dapat diandalkan di Indonesia. (hlz/hlz)


Komentar