Selasa, 25 September 2018 | 09:46 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Kereta Api
Sabtu, 23 Juni 2018 23:46

LRT Palembang Siap Beroperasi Juli 2018, Ini Bedanya dengan LRT Jabodebek

Translog Today
(Kemenhub)

JAKARTA -

Kereta api ringan atau light rail transit (LRT) Palembang dipastikan beroperasi mulai Juli 2018, setelah Kementerian Perhubungan menyelesaikan serangkaian pengujian sarana dan prasana.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan Kemenhub memastikan keamanan dan keselamatan pengoperasian LRT Palembang sehingga siap mendukung pesta olahraga Asian Games 2018.

"Kami telah melakukan serangkaian pengujian sarana dan prasarana LRT pada Mei 2018 dan uji coba dinamis pada Kamis (21/6/2018) dari stasiun Jakabaring menuju stasiun Palembang Icon," kata Zulkifli dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/6/2018).

LRT Palembang membentang sepanjang kurang lebih 23 kilometer dilengkapi dengan 13 stasiun, satu depo, dan sembilan gardu listrik. Adapun lebar jalur rel 1.067 mm dan rel ketiga (third rail) electricity 750 VDC telah dimulai sejak Oktober 2015 dengan pembiayaan APBN.

LRT tersebut menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin menuju kawasan olahraga (sport city) Jakabaring.

Zulkifli menjelaskan, jenis pekerjaan LRT Palembang sangat bervariasi mulai dari konstruksi, stasiun, sarana, depo yang luas, penanganan tanah yang disebabkan oleh karakteristik berbeda, serta pekerjaan yang memerlukan penguasaan teknologi tinggi baik untuk jenis sarana, infrastruktur dan sistem fasilitas operasinya.

Secara keseluruhan, LRT Palembang berupa konstruksi layang (elevated) dengan dilengkapi rel ketiga untuk ketersediaan listrik (power supply) serta menggunakan teknologi slab track (tanpa ballast) pada jalur rel dan sistem persinyalan fixed block.

Teknologi girder yang digunakan pun berbeda. LRT Jabodebek menggunakan U-shaped girder, LRT Jakarta menggunakan box girder, sementara LRT Palembang menggunakan I girder.

Adapun lebar spoor LRT Palembang 1.067 mm, sedangkan LRT Jabodebek dan LRT Jakarta 1.435 mm. "Perbedaan karakteristik jenis konstruksi tersebut mengakibatkan variasi biaya konstruksi masing-masing LRT," kata Zulkifli.

Perbandingan Investasi

Dia menekankan bahwa biaya konstruksi tersebut telah sesuai dengan harga pasar, sehingga nilai investasi proyek LRT Palembang merupakan total biaya sarana dan prasarana yang tidak dapat dipisahkan.

"Nilai investasi apabila dibagi dengan panjang jalur LRT tersebut dinilai masih cukup realistis dan telah dilakukan perbandingan dengan negara-negara di kawasan ASEAN," ujarnya.

Sebagai contoh, ungkap Zulkifli, biaya pembangunan LRT Kelana Jaya Line di Malaysia sebesar Rp817 miliar per kilometer, sedangkan biaya pembangunan LRT di Manila Rp907 miliar per kilometer.

Dia mengatakan anggaran pemerintah untuk pembangunan LRT Palembang telah diproses secara akuntabel dengan dikaji secara berlapis mulai dari konsultan independen yang berkualifikasi internasional, audit internal, hingga audit eksternal oleh instansi terkait agar sesuai dengan prinsip GCG (good corporate governance).

Awalnya, ungkap Zulkifli, pembiayaan proyek LRT ini oleh kontraktor diusulkan sebesar Rp12 triliun, tetapi setelah melalui beberapa kajian, biaya tersebut dapat ditekan menjadi Rp10,9 triliun.

LRT Palembang merupakan amanat Perpres Nomor 116 Tahun 2015 dan Perpres 55 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 116 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit di Provinsi Sumatera Selatan.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk ditugaskan sebagai pelaksana pembangunan prasarana LRT Palembang dan PT KAI (Persero) sebagai operatornya.

Dalam pelaksanaan pembangunannya, Waskita Karya dibantu oleh konsultan pengawas (supervisi) yang berkualifikasi Internasional yakni SMEC Internasional asal Australia yang telah mempunyai pengalaman cukup luas di Asia, Australia, Afrika, Eropa, dan Amerika. (hlz/hlz)


Komentar