Jumat, 20 Juli 2018 | 11:55 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Senin, 25 Juni 2018 20:41

Pelabuhan Indonesia Akhirnya Keluar dari Daftar War Risk

Translog Today
(Kemenperin)

JAKARTA - Joint War Committee (JWC) mengeluarkan Indonesia, khususnya Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dari daftar War Risk (rawan perang) dalam pengumuman terbaru organisasi internasional berbasis di London itu.

Keputusan tersebut tertuang dalam surat JWC bertajuk Hull War, Piracy, Terrorism and Related Perils Listed Areas yang disampaikan oleh Sekretaris JWC Neil Roberts pada 14 Juni 2018.

Surat itu menyebutkan, JWC telah mengkaji ulang Listed Areas dan menyetujui perubahan yakni penghapusan Port of Jakarta dalam daftar War Risk.

Selanjutnya, JWC akan mempublikasikan perubahan itu dalam website Lloyds of London Market (lmallyoads.com) dan International Underwriting Association (IUA) (iua.co.uk), dua organisasi yang menjadi anggotanya.

Selama ini, Pelabuhan Tanjung Priok dimasukkan JWC ke dalam daftar War Risk sehingga merugikan Indonesia karena meningkatkan biaya pelayaran akibat adanya tambahan biaya asuransi yang harus ditanggung perusahaan pelayaran .

Pasalnya, sebagian besar pasar asuransi risiko perang mengambil referensi dari daftar tersebut sebagai panduan dalam menentukan asuransi peran kapal.

"Tanjung Priok Jakarta akhirnya dinyatakan sebagai pelabuhan yang aman oleh JWC yang sebelumnya selalu dimasukan ke dalam daftar pelabuhan berisiko tinggi di dunia. Ini akan menghapuskan beban premi tambahan bagi pengusaha pelayaran sehingga Pelabuhan Tanjung Priok menjadi lebih kompetitif," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo, Senin (25/6/2018).

Menurut dia, keputusan itu menunjukan kepercayaan dunia pelayaran internasional bahwa Indonesia, khususnya Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta aman.

Agus mengungkapkan penyesalannya Pelabuhan Tanjung Priok dimasukan ke dalam daftar War Risk, padahal selama ini tidak ada gangguan keamanan yang menyita perhatian dunia khususnya pelaku usaha maritim.

"Kami melayangkan protes kepada JWC dengan menyampaikan data dan fakta bahwa Pelabuhan Tanjung Priok itu aman dan akhirnya protes kami membuahkan hasil sehingga Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dikeluarkan dari daftar War Risk JWC," ungkapnya.

Dirjen Agus juga mengatakan bahwa dengan dihapuskannya Pelabuhan Tanjung Priok dari rilis War Risk tentunya beban premi tambahan asuransi kapal yang menuju Pelabuhan Tanjung Priok menjadi hilang dan seluruh perairan Indonesia aman bagi pelayaran.

Tanggapan INSA

Ketua Umum Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Johnson W. Sutjipto juga mengungkapkan syukur akhirnya Indonesia bisa keluar dari daftar War Risk JWC.

Sebelumnya, INSA telah menyurati JWC guna meminta penjelasan mengenai masih dimasukkannya Tanjung Priok ke dalam daftar War Risk. Atas surat tersebut, JWC telah memberikan penjelasan kepada INSA.

Menurut JWC, ada dua alasan yang menyebabkan pelabuhan dan gerbang utama Indonesia yaitu Tanjung Priok masuk ke dalam daftar War Risk, yakni masih banyaknya klaim asuransi atas kejahatan di Tanjung Priok karena adanya pencurian biasa (petty theft) dan pencurian dengan kekerasan (petty theft robbery with violent).

JWC merilis daftar War Risk pada 10 Desember 2015 dan September 2017, masih memasukkan Pelabuhan Tanjung Priok ke dalam War Risk. Perairan di dunia yang masuk dalam War Risk dikelompokkan ke dalam lima kawasan, yakni Asia, Afrika, Samudera Hindia, Asia Tengah, dan Amerika Selatan.

Setelah perairan Indonesia dikeluarkan dari daftar, kini tinggal Pakistan yang masih masuk dalam daftar War Risk untuk kawasan Asia, sementara di Afrika yaitu Libya, Somalia, Nigeria, dan Togo.

Di Samudera Hindia, kawasan War Risk terdiri dari Laut India, Laut Arab, Teluk Eden, Teluk Oman, dan Laut Merah. Adapun di Asia Tengah meliputi Iran, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Suriah, dan Yaman. Sementara di Amerika Selatan yakni perairan Venezuela. (hlz/hlz)


Komentar