Rabu, 15 Agustus 2018 | 20:30 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Korporasi / CSR
Jumat, 27 Juli 2018 07:01

TTL Gandeng WIMA Tanam 5.000 Bibit Mangrove di Pantai Greges

Ayu Puji

SURABAYA -

PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bekerja sama dengan WIMA (Woman In Maritime) dan Kodim 0830 Surabaya Utara melakukan penanaman 5.000 bibit pohon mangrove di Pantai Greges, Asemrowo, Surabaya.

Direktur Utama TTL Dothy mengungkapkan kegiatan itu digelar untuk memperingati Hari International untuk Konservasi Ekosistem Mangrove setiap tanggal 26 Juli, sekaligus menunjukkan kepedulian TTL terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Terminal Teluk Lamong sebagai pelabuhan ramah lingkungan terus berupaya menjaga kelestarian lingkungan. Namun ada hal yang tak kalah penting dalam kegiatan kali ini adalah penyadaran lingkungan kepada masyarakat akan pentingnya peranan hutan mangrove bagi lingkungan, terutama untuk wilayah pesisir,” kata Dothy saat memberikan sambutan penanaman mangrove di Pantai Greges, Jumat (27/7/2018).

Kegiatan itu antara lain diikuti oleh Ketua Umum WIMA Indonesia 
DR. Chandra Motik Yusuf, Ketua Umum Indonesia Nation Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto, Wakil Ketua Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Anita Puji Utami, dan Direktur Utama PT Samudera Indonesia Masli Mulia. 

Dothy mengatakan mangrove merupakan ekosistem yang unik, spesial, dan rentan. Bahkan, mangrove pesisir adalah salah satu ekosistem yang paling terancam di bumi. 

“Ekosistem mangrove sangat penting karena berbagai manfaat dan fungsinya, mulai dari perlindungan dari badai, perlindungan kenaikan permukaan laut untuk mencegah erosi garis pantai, penyerap karbon, peredam pemanasan global hingga penyediaan sumber pangan perikanan dan hasil hutan serta menyediakan habitat bagi spesies-spesies laut,” jelasnya.

Dia mengakui kegiatan penanaman mangrove gencar dilakukan berbagai pihak dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, banyak dari kegiatan itu kurang berhasil mencapai tujuan utama kegiatan restorasi, yaitu mengembalikan fungsi ekologis ekosistem mangrove. 

“Banyak tegakan tanaman yang kemudian tidak bertahan hidup dalam jangka panjang, atau kalaupun hidup tetapi kemudian menjadi kawasan mangrove yang hanya tersusun dari spesies tunggal dan kerapatan yang tidak alami,” ujar Dothy.

Menurut dia, restorasi yang baik selayaknya dapat menghasilkan hutan mangrove yang cukup luas, beragam jenis, berfungsi secara ekologis dan tumbuh secara alami memperlihatkan adanya zonasi daratan ke lautan yang sangat jelas. 

“Kondisi ini akan mengundang berbagai keanekaragaman jenis hayati, termasuk ikan, serta fungsi perlindungan pantai yang lebih baik,” paparnya lagi.

Dothy mengatakan semangat dan inisiatif dari berbagai kalangan untuk melakukan penanaman mangrove patut diapresiasi, sekaligus perlu diarahkan agar lebih efektif dan bermanfaat secara ekologis.

Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan terima kasih kepada Kodim 0830 Surabaya Utara atas kerja sama yang terjalin dengan baik selama ini sehingga perusahaan bersama masyarakat selalu memiliki hubungan yang harmonis. 

Dia juga mengapresiasi peran WIMA dalam kegiatan tersebut. WIMA adalah organisasi yang dibentuk sebagai wadah yang dapat memberikan solusi komunikatif antara WIMA dengan komunitas maritim lainnya untuk bersama-sama memajukan dunia maritim Indonesia. (hlz/hlz)


Komentar