Rabu, 14 November 2018 | 16:17 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Galangan Kapal
Kamis, 16 Agustus 2018 11:53

Domestik Turun, Terafulk Garap Pasar Design Kapal Luar Negeri

Tularji Adji
Muhammad Azis (Kanan), CEO Of Terafulk (Muhammad Azis)

JAKARTA - PT Terafulk Megantara Design, perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembuatan design kapal berbasis di Surabaya, Jawa Timur, terus memperkuat penetrasi pasar ke sejumlah negara di Asia dan Afrika.

Saat ini, PT Terafulk Megantara Design telah memiliki pangsa pasar di Asia seperti Jepang, Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan beberapa negara di Afrika.

Direktur Utama PT Terafulk Megantara Design Muhammad Azis mengatakan pangsa pasar design kapal di dalam negeri mengalami penurunan setelah order kapal pembangunan baru di dalam negeri juga anjlok.

Pihaknya membidik pangsa pasar luar negeri supaya pasar Terafulk tidak hanya fokus di domestik. "Alhamdulillah, karya-karya kami cukup diterima di luar negeri," katanya kepada www.translogtoday.com hari ini.

PT Terafulk Megantara Design merupakan desainer kapal yang maju. Setiap kapal direkayasa dengan perangkat lunak tercanggih dan insinyur berpengalaman sehinga terbukti dan dipercaya oleh galangan domestik dan luar negeri maupun pengguna akhir.

Produk-produk PT Terafulk Megantara Design adalah basic design, hull construction, system and outfitting, FEM Analysis, production drawing, building supervision dan 3D Visualization.

Dia mengakui saat ini kondisi industri galangan dalam negeri memerlukan kebijakan yang lebih pas dari Pemerintah untuk bisa tumbuh berkelanjutan sehingga industri design kapal juga bisa berkembang.

Akan tetapi, katanya, jika keadaan industri galangan lesu seperti saat ini, sulit bagi industri design kapal untuk berkembang. "Pilihan kami ya mengembangkan pasar ke luar negeri supaya pasar kami menjadi lebih
luas dan besar," ujarnya.

Menurut dia, industri design di Indonesia dan di luar negeri memang berbeda. Dia mencontohkan design kapal antara Jepang dan Indonesia. Di Jepang, design dan perencaan harus dimatangkan terlebih dahulu, baru setelah itu kegiatan produksi kapal dimulai.

Sebaliknya di Indonesia, galangan kapal cenderung buru-buru untuk membangun. Designnya belum selesai melakukan perhitungan, produksi justru sudah jalan. "Untuk industri galangan, seperti belum ada di Indonesia yang selevel dengan di Jepang," katanya.

  (adm/hlz)


Komentar