Rabu, 22 Mei 2019 | 23:36 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Selasa, 04 September 2018 17:32

IPC Mulai Terapkan TPS Online di TPK Pelabuhan Panjang

Translog Today
(IPC)

BANDAR LAMPUNG -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Cabang Pelabuhan Panjang mulai menerapkan Tempat Penimbunan Sementara berbasis Online (TPS Online) di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung. 

TPS Online merupakan solusi digital untuk melakukan Pertukaran Data Elektronik (PDE) peti kemas antara sistem IPC di Terminal Peti Kemas dan sistem Bea Cukai di pelabuhan, sehingga pelayanan kepada pelanggan lebih optimal. 

Penerapan TPS Online ini melengkapi aplikasi Auto Gate System dan Automatic Tally System yang segera diterapkan di pelabuhan tersebut.

TPS Online sebelumnya sukses diimplementasikan di Pelabuhan Tanjung Priok, Pontianak, dan Palembang. Aplikasi ini rencananya diterapkan di seluruh terminal peti kemas ocean going (internasional) di wilayah IPC. 

“TPS Online akan mengurangi biaya logistik dan memangkas dwelling time. Kita sedang memasuki era baru pelabuhan, dengan mengaplikasikan digital port di seluruh pelabuhan yang dikelola IPC,”kata Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya, saat peluncuran aplikasi TPS Online di Terminal Petikemas Pelabuhan Panjang, Selasa (4/9/2018). 

Acara itu juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan, yang sengaja datang untuk meninjau program digital port di Pelabuhan Panjang. 

Menurut Elvyn, IPC berkomitmen mengembangkan dan memanfaatkan teknologi digital di semua lini, agar pelayanan semakin cepat, lebih mudah, dan lebih murah. “Semua ini diharapkan akan menekan biaya logistik, yang akhirnya akan meningkatkan daya saing produk nasional,” ujarnya.

Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha IPC Saptono R. Irianto menjelaskan, melalui aplikasi TPS Online, Bea Cukai akan lebih cepat memonitor pergerakan kontainer di TPS dan lebih cepat merespons Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang diajukan pemilik barang. 

“Pihak terminal juga dapat melakukan cross check keaslian dokumen Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) yang diunggah pemilik barang melalui E-Service dengan data yang ada di Bea Cukai. Hal ini membantu mencegah pengeluaran peti kemas yang belum memiliki izin dari Bea Cukai. Aplikasi ini juga mengurangi pemeriksaan secara manual (paper based),” kata Saptono.

Pelabuhan Panjang telah mengaplikasikan tiga layanan kepelabuhanan berbasis digital, di antaranya Vessel Management System (VMS) yang terintegrasi dengan Inaportnet dari Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. 

VMS mencakup informasi tentang pemberitahuan kedatangan kapal, rencana kedatangan kapal, serta permintaan pelayanan kapal dan barang, yang berbasis online. 

Pelabuhan Panjang juga mengaplikasikan e-service solution, yang berisi modul-modul layanan registrasi, booking, tracking, pembayaran, penerbitan tagihan, serta layanan umum bagi pelanggan berbasis online

Terkait dengan pola operasi penanganan peti kemas, Pelabuhan Panjang telah memanfaatkan aplikasi Terminal Operating System OPUS, yang terintegrasi dengan Terminal Billing System.  (hlz/hlz)


Komentar