Rabu, 14 November 2018 | 16:54 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Sabtu, 08 September 2018 20:58

Potensi Muatan Besar, Saatnya Pelindo I Serius Garap Pelabuhan Malahayati

Aidikar M. Saidi
Bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Malahayati (Translogtoday/ams)

BANDA ACEH -

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) sudah saatnya serius dalam mengelola terminal peti kemas di Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar, mengingat muatan dari dan ke pelabuhan terbesar di Provinsi Aceh itu tumbuh pesat.

Arus petikemas (throughput) melalui Pelabuhan Malahayati terus meningkat setelah PT Tempuran Emas (Temas) Tbk membuka rute tetap dua kali sampai tiga kali sebulan. Perusahaan pelayaran itu mengoperasikan kapal peti kemas rute Tanjung Priok-Malahayati sejak Agustus 2016.

Kini sudah dua perusahaan pelayaran yang menyinggahi Pelabuhan Malahayati, termasuk PT Salam Pasifik Indonesia Lines (SPIL), sehingga dibutuhkan fasilitas yang memadai dengan pengelolaan pelabuhan secara profesional.

Hingga Agustus 2018, berdasarkan data Pelindo I, throughput petikemas melalui pelabuhan itu sudah mencapai 5.282 boks. Padahal, selama 2017throughput-nya 6.729 boks atau meningkat dibandingkan dengan 2016 yang hanya 2.702 boks.

Pelabuhan Malahayati diharapkan menjadi terminal peti kemas ketiga yang dikelola Pelindo I, setelah Belawan (Medan) dan Perawang (Riau). 

A. Kadir, koordinator lapangan Pelindo I Cabang Malahayati, mengakui bahwa tenaga kerja yang menangani bongkar muat peti kemas di pelabuhan tersebut masih terbatas sehingga tidak ada shift kerja.

"Bila satu kapal dilayani tiga hari di pelabuhan, tenaga operator alat tidak diganti-ganti sampai kapal meninggalkan dermaga," ujar Kadir, yang mendampingi Manager Keuangan dan Umum Pelindo I Cabang Malahayati Surya Handoko, kepada wartawan dari Jakarta dan Medan, Kamis (6/9/2018).

Menurut dia, PT Djakarta Lloyd merintis masuk Pelabuhan Malahayati pada 2010 tapi tidak bertahan lama. Kemudian pada 2012 masuk lagi kapal milik PT Alken dan tidak bisa berlanjut.

Pada 2014, Temas dan SPIL juga tidak mampu bertahan lama karena pelabuhan tidak tersedia alat untuk bongkar muat peti kemas.

Setelah dipasang satu unit harbour mobile crane (HMC), satu unit reach stacker (RS), dan container yard (CY) seluas 7.000 meter di pelabuhan itu pada Agustus 2015, Temas mengoperasikan kapal secara reguler setiap pekan ke Malahayati.

Kini setelah dua perusahaan pelayaran masuk, pelabuhan tersebut membutuhkan tambahan fasilitas berupa satu unit RS dan CY sekitar 7.000 meter atau menjadi 14.000 meter dan alat penunjang lainnya.

Potensi muatan dari Pelabuhan Tanjung Priok yang dibongkar di Malahayati antara lain komoditas Bulog, produk Wings, semen kantong, rokok, dan barang dagangan lainnya seperti peralatan rumah tangga.

Butuh Container River 

Muatan ekspor juga sebetulnya cukup banyak permintaan, sayangnya Pelabuhan Malahayati tidak memiliki fasilitas untuk container river. Komoditas yang diminati untuk dikapalkan dari pelabuhan ini seperti bubuk kayu, ikan dan daging sapi yang membutuhkan container river.

Menurut Kadir, fasilitas dermaga yang tersedia sepanjang 350 meter dan akan ditambah lagi 100 meter dengan kedalaman 8 meter LWS.

Pelabuhan Malahayati secara geografis lebih dekat dangan kawasan Eropa dan Timur Tengah, selain sangat memungkinkan untuk direct call (angkutan langsung),  sehingga produk ekspor asal Aceh bisa diangkut langsung dari Malahayati tanpa lewat Belawan atau Tanjung Priok lagi.

Selain Malahayati, terdapat pelabuhan besar lainnya di Provinsi Aceh yakni Pelabuhan Lhokseumawe. (hlz/hlz)


Komentar