Selasa, 25 September 2018 | 09:47 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 09 September 2018 11:51

Pelindo I Segera Lengkapi Fasilitas Bongkar Muat Pelabuhan Lhokseumawe

Aidikar M. Saidi
GM Pelindo I Cabang Lhokseumawe Budi Azmi (Translogtoday/ams)

LHOKSEUMAWE -

PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) segera melengkapi fasilitas untuk pelayanan peti kemas di Pelabuhan Krueng Geukueh Lhokseumawe guna menarik kembali minat perusahaan pelayaran membuka rute ke pelabuhan di pantai timur Provinsi Aceh tersebut.

Sejak awal 2018, PT Tempuran Emas Tbk (Temas) tidak lagi masuk menyinggahi Pelabuhan Lhokseumawe karena fasilitas pelabuhan itu kurang memadai.

General Manager Pelindo I Cabang Lhokseumawe Budi Azmi mengatakan pihaknya segera mendatangkan satu unit HMC berkapasitas 150 ton yang diharapkan sudah masuk ke Lhokseumawe pada Oktober 2018.

"Alat ini mampu melayani bongkar muat peti kemas dari dan ke kapal," katanya kepada sejumlah wartawan dari Jakarta dan Medan saat meninjau Pelabuhan Lhokseumawe, Selasa (4/9/2018).

Selain Temas, PT Kanaka Lines juga tidak lagi masuk ke Pelabuhan Lhokseumawe karena fasilitas yang terbatas. Apalagi potensi bongkar muat peti kemas dan general cargo lesu sejak pertengahan 2017.

Menurut Budi, alat mobile crane yang diinvestasikan oleh pihak ketiga ditargetkan beroperasi di Pelabuhan Lhokseumawe pada pengujung tahun ini. 

Pengadaan alat yang dilakukan melalui kerja sama sistem KSO itu diharapkan dapat membangkitkan kembali kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Krueng Geukueh Lhokseumawe.

Dia mengakui selama 2018 tidak ada investasi tetapi manajemen Pelindo I harus menambah fasilitas HMC berkapasitas besar guna mendukung alat eksisting, yakni mobile crane Terex dan reach stacker Kalmar kapasitas 45 ton.

Pelabuhan Lhokseumawe memiliki kedalaman 10 meter LWS (saat pasang), dermaga sepanjang 268 meter yang dibangun pasca-bencana tsunami oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR). 

Secara teknis, bangunan dermaga Pelabuhan Lhokseumawe cukup kokoh ditambah dengan fasilitas container yard (CY) lebih dari 3 hektare.

Pada pertengahan 2016, kapal milik Kanaka Line melakukan pelayaran dua kali dalam sebulan, yakni rute Tanjung Priok–Belawan–Lhokseumawe–Malahayati.

Khusus Pelabuhan Lhokseumawe, bongkaran Kanaka Line didominasi produk Indofood. Namun sejak pertengahan 2017, rute pelayaran Kanaka Lines terhenti.

Direktur Utama Pelindo I Bambang Eka Cahyana, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta pada awal 2018, pernah mengungkapkan rencana pengembangan kawasan industri di Lhokseumawe bekerja sama dengan PT Pertamina dan PT Pupuk Indonesia.

Sekretaris Perusahaan Pelindo I Eriansyah mengatakan Lhoksumawe sama halnya dengan Malahayati yang saat ini tergabung dalam koordinasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun. (hlz/hlz)


Komentar