Rabu, 14 November 2018 | 15:58 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Senin, 10 September 2018 15:41

Mayoritas Operator Penyeberangan Keberatan dengan Permenhub No.88/2014

Translog Today
Kapal Roro 5000 GT di Lintas Penyeberangan Merak-Bakauheni (repro)

JAKARTA - Meskipun sejumlah perusahaan penyeberangan menyatakan siap melaksanakan Peraturan Menteri Perhubungan No.88 tahun 2014 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Lintas Merak-Bakauheni, namun sebagian masih keberatan.

Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) menyampaikan keberatannya atas pelaksanaan Peraturan tersebut. Sejumlah alasan dikemukakan oleh asosiasi perusahaan penyeberangan terbesar di Indonesia tersebut.

Pertama, akan terjadi inefisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi karena kapal-kapal di lintasan Merak-Bakauheni lebih banyak melayani pengguna jasa pada waktu sepi dibandingkan waktu padat (peak time).

Menurut Gapasdap, lama periode saat muatan sepi (off peak time) dalam setiap hari rata-rata mencapai 75 % yakni antara jam 04.00-22.00. "Dalam kondisi sepi, kapal berukuran kecil lebih efisien untuk dioperasikan," kata Ketua Umum Gapasdap Khoiri Sutomo.

Dia menjelaskan jika kondisi ramai dapat dioperasikan kapal berukuran besar, sedangkan jika kondisi sepi dapat dioperasikan kapal dengan ukuran kecil, sehingga tidak ada kapasitas yang terbuang, dan ini akan lebih mengefisienkan penggunaan BBM bersubsidi.

Kedua, efisiensi biaya operasional kapal dimana saat ini, dalam satu bulan, rata-rata kapal beroperasi selama 12 hari (40%). Dalam sehari waktu ramai (peak time), dari lintas Merak-Bakauheni hanya 25% sehingga apabila kapal digantikan dengan ukuran lebih besar, maka beban perusahaan akan bertambah.

Beban tersebut baik dari sisi biaya sumber daya manusia, biaya perawatan, biaya kepelabuhanan dan sebaianya. "Dengan melihat kondisi tersebut diatas, maka akan menyebabkan tingginya pemborosan yang harus dilakukan oleh perusahaan karena membiayai kapal yang secara operasional spacenya hanya terpakai 10%.

Kondisi Lintasan

Gapasdap juga menyampaikan kondisi operasional lintas Merak-Bakauheni saat ini. Menurut Gapasdap, kondisi muatan terutama untuk kendaraan barang terus mengalami penurunan sejak tahun 2010. Untuk perbandingan penurunan kendaraan barang dari tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2017 adalah menurun sekitar 10,1% (data PT ASDP).

Kondisi sebaliknya justru jumlah kapal yang beroperasi mengalami kenaikan dari 49 unit (2013) menjadi 69 unit (akhir 2017)dan bertambah menjadi 70 unit kapal pada 2018 ini. Adapun jumlah load factor kendaraan rata-rata hanya 17% per kapal dengan asumsi jumlah muatan total setahun dibagi dengan kapasitas total yang dimiliki oleh 69 unit kapal.

Di sisi lain, sejak 2011, ada transportasi yang merupakan lintas yang berimpit dengan lintas Merak-Bakauheni, yaitu lintas Bojanegara-Bakauheni yang mengambil pasar yang cukup signifikan dan semakin berkembang, selain itu juga ada lintas alternatif Tanjung Priok - Panjang (Lampung).

  (aji/hlz)


Komentar