Senin, 22 Oktober 2018 | 17:06 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Kamis, 20 September 2018 15:36

Banyak Peti Kemas Tak Layak Pakai, Kemenhub Diminta Segera Gelar Uji Petik

Translog Today

JAKARTA -

Kementerian Perhubungan perlu segera melakukan uji petik kelaikan peti kemas yang beredar di dalam negeri untuk pengapalan ekspor impor dan antarpulau, menyusul indikasi banyaknya kriteria peti kemas tak layak pakai.

Sekjen Indonesia Maritime, Logistic and Transportation Watch (IMLOW) Achmad Ridwan Tento mengatakan, uji petik kelaikan peti kemas atau kontainer itu perlu segera dilaksanakan di pelabuhan utama Indonesia yang melayani ekspor impor.

Pelabuhan utama itu, antara lain Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Belawan Medan, dan Pelabuhan Makassar.

"Uji petik kontainer sudah seharusnya dilakukan untuk meningkatkan faktor keselamatan di sektor angkutan laut. Hal ini sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku," kata Ridwan, Kamis (20/9/2018).

Menurut Ridwan, uji petik kontainer telah diamanatkan melalui Peraturan Pemerintah No. 51/2002 tentang Perkapalan yang tertuang dalam pasal 103 dan 104 mengenai Pengawasan dan Pelaksanaan Uji Petik Kontainer.

Selain itu, uji petik container telah diatur lewat Surat Edaran Dirjen Hubla Kemenhub No:UM.003/55/9/DJPL-17 tentang Kelaikan Peti Kemas tertanggal 24 Juli 2017.

Ridwan menegaskan, uji petik kontainer juga seiring dengan terbitnya Permenhub No. 53/2018 tentang Kelaikan Peti Kemas dan Berat Kotor Peti Kemas Terverifikasi.

"Kalau dari sisi aturan sudah lengkap karena kelaikan kontainer tersebut untuk menjaga faktor keselamatan. Bahkan UU No. 17/2008 tentang Pelayaran mengatur sanksi kurungan pidana dan denda hingga Rp300 juta terhadap pemilik kontainer yang tidak memenuhi persyaratan kelaikan," ujarnya.

Berdasarkan survei kelaikan peti kemas yang dilakukan Kemenhub pada periode 2014-2015, ditemukan sekitar 80% peti kemas untuk pengapalan ekspor impor dan antarpulau (domestik) dalam kondisi tidak laik pakai. 

Data hasil survei itu terungkap saat sosialisasi PM. 53/2018 oleh Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok pada Agustus 2018.

Berdasarkan data Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki), saat ini terdapat sekitar 16 juta peti kemas yang lalu lalang di Indonesia. Sekitar 25% dari jumlah peti kemas itu dimiliki pelayaran nasional untuk kegiatan perdagangan antarpulau. (hlz/hlz)


Komentar