Rabu, 12 Desember 2018 | 05:11 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Logistik / Freight/Cargo
Jumat, 21 September 2018 20:19

Tarif OPP/OPT di Tanjung Priok Naik Mulai 1 Oktober, Ini Rinciannya

Aidikar M. Saidi
Juswandi Kristanto (tengah) (Translogtoday/ams)

JAKARTA -

Ongkos Pemuatan Pelabuhan dan Ongkos Pelabuhan Tujuan (OPP/OPT) atau tarif bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok naik mulai 1 Oktober 2018 dengan besaran 5% hingga 20%.

Penaikan tarif menyusul kesepakatan bersama antara asosiasi perusahaan pengguna dan penyedia jasa, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), dan disetujui oleh Otoritas Pelabuhan (OP). Kesepakatan telah ditandatanganai pada Agustus 2018 dan akan berlaku selama 2 tahun. 

Asosiasi usaha tersebut terdiri dari Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI), Asosiasi Logistik Forwarding Indonesia (ALFI), Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Indonesia Nasional Shipowners Association (INSA), dan Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI).

"Penyesuaian tarif dilakukan karena sejak 2013 belum pernah naik. Padahal tarif Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) setiap tahun naik," kata Juswandi Kristanto, Ketua DPW APBMI Tanjung Priok, kepada wartawan, Jumat (21/9/2018) sore.

Menurut Juswandi, dalam 4 tahun terakhir sejak 2014 hingga 2018, kenaikan upah TKBM mencapai 50,16%, sedangkan OPP/OPT tetap. “Belum lagi kenaikan biaya operasional bongkar muat dan alat," ungkap Juswandi yang didampingi Sekretaris DPW APBMI Aria Senopati Lihu dan Executive Secretary DPW APBMI Aris Hartoyo.

Komponen OPP/OPT yang mengalami kenaikan, antara lain untuk general cargo naik 7,4%, general cargo via gudang T/L naik 12%. Adapun curah kering lewat kapal naik 7%, sementara curah kering lewat tongkang tidak mengalami kenaikan.

Selain itu, tarif OPP/OPT curah cair domestik dan internasional sama-sama naik 20% dan untuk hewan ternak naik 5%. OPP/OPT untuk semua jenis kendaraan juga naik 5%, sedangkan kenaikan tarif untuk biaya tambahan mekanik (forklift) disepakati 20%. (hlz/hlz)


Komentar