Senin, 22 Oktober 2018 | 16:53 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Galangan Kapal
Jumat, 05 Oktober 2018 20:19

Anita Puji Utami: Kelembutan di Balik Kerasnya Industri Galangan Kapal

Ayu Puji
Anita Puji Utami ((istimewa))

SURABAYA -

Industri galangan kapal selama ini sering dipersepsikan sebagai dunia laki-laki. Tidak heran apabila perempuan yang terjun ke industri ini bisa dihitung dengan jari, apalagi yang sampai menduduki posisi manajemen puncak. 

Persepsi itu dapat dimaklumi. Industri galangan kapal memang terkesan keras dan kotor karena banyak menggunakan mesin dan peralatan berat. Namun, peluang bagi perempuan untuk menggeluti bidang ini bukanlah suatu yang tabu atau mustahil.

Hal itu dibuktikan sendiri oleh Anita Puji Utami. Perempuan kelahiran Surabaya, 29 Desember 1972 ini, berhasil menduduki posisi Direktur Utama di PT Adiluhung Sarana Segara Indonesia (ASSI), galangan kapal berbasis di Madura, Jawa Timur.

Industri perkapalan sudah menarik minat Anita sejak remaja. Tidak heran jika dia menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan studi S1 di Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Karirnya berawal di salah satu perusahaan pelayaran nasional di Surabaya. Suatu saat, ketika holding perusahaan pelayaran itu mengakuisisi galangan kapal sebagai fasilitas perawatan armadanya, Anita diminta menjadi Direktur Produksi. 

Bagi Anita, adaptasi dari usaha pelayaran ke galangan kapal tidak terlalu sulit. Kedua jenis usaha ini masih satu rumpun industri maritim yang saling menunjang, meskipun pada dasarnya berbeda.

Setelah beberapa tahun menjabat Direktur Produksi, pada tahun 2015 dia kemudian dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama PT ASSI. Bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki tidak membuat Anita merasa minder atau tertekan. Sejauh ini, dia mampu membangun kerja sama solid dengan semua karyawan sehingga perusahaan bisa terus berkembang.

“Bekerja di lingkungan laki-laki ada suka dan dukanya. Sukanya adalah laki-laki cenderung rasional sehingga lebih mudah menerima masukan. Dukanya, kita perlu sabar menghadapi laki-laki yang kadang tingkat emosionalnya sangat tinggi satu sama lain. Saat itulah diperlukan ‘peran wanita’ untuk bisa mengambil sisi yang bisa diterima oleh mereka,” ungkap Anita.

Ibu tiga orang anak ini bahkan tidak segan-segan turun ke lapangan untuk melihat langsung pekerjaan yang mayoritas dilakukan oleh laki-laki.

“Saya sangat bahagia dan bersyukur dengan pekerjaan ini karena mendapat dukungan dari karyawan, direksi, pemilik perusahaan dan lainnya. Mereka sangat loyal membatu proses pekerjaan yang ‘kasar’ seperti pengelasan serta bergelut dengan bahan baku besi di pinggir pantai atau laut ini,” ujarnya.

Meski demikian, Anita selalu menegakkan disiplin dalam proses pekerjaan di lapangan dan mematuhi standar operasional yang ditetapkan kepada seluruh karyawan. Dengan demikian, kualitas kapal yang dibangun sesuai dengan standar dan dapat diselesaikan tepat waktu.

Kedisiplinan menjadi modal bagi Anita untuk membangun kepercayaan pelanggan. Terbukti, PT ASSI masih mendapat order pembangunankapal baru di tengah iklim usaha yang kurang kondusif.

Anita Puji Utami 

Hingga saat ini, galangan yang dipimpinnya sudah membangun hampir 100 kapal, termasuk salah satu kapal yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, yaitu KM Camara Nusantara.

Di lingkungan industri maritim, nama Anita juga sudah tidak asing lagi. Pasalnya, selama ini dia aktif dalam berbagai kegiatan pemerintahan, asosiasi industri dan organisasi kemasyarakatan. 

Selain menjabat Wakil Ketua Umum DPP Iperindo (Ikatan Perusahaan Industri Perkapalan dan Lepas Pantai), Anita juga merupakan Sekjen Alumni FTK ITS dan pengurus Women in Maritime (WIMA) Indonesia. Dia juga sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai diskusi dan seminar yang digelar instansi pemerintah atau lembaga lainnya.

Sebagai pengurus Iperindo, perhatian dan pengetahuan Anita terhadap industri perkapalan makin kental. Oleh karena itu, dia ingin ikut membantu pemerintah membangun industri dalam negeri yang kuat dengan memberikan masukan konstruktif.

Anita menjelaskan, industri galangan kapal bersifat padat modal, padat karya, sekaligus padat teknologi yang keberlangsungannya sangat bergantung pada kondisi pasar dan kebijakan pemerintah.

Saat ini, industri galangan kapal nasional sangat lesu mengingat pesanan pembuatan kapal di dalam negeri sangat minim. Pesanan yang ada pun berasal dari pemerintah, sehingga sangat mempengaruhi keberlangsungan industri tersebut. 

Beberapa galangan kapal terpaksa merumahkan karyawan karena tidak mendapatkan order sama sekali, sedangkan biaya overhead perusahaan sangat tinggi. Sebagian galangan masih bertahan dengan mengandalkan usaha reparasi kapal. 

Butuh Kebijakan

Oleh karena itu, kelesuan di industri galangan kapal nasional tidak boleh berlangsung lebih lama lagi. Pemerintah harus segera membuat kebijakan maritim yang berpihak kepada industri galangan kapal agar mereka tidak mati.

Beberapa usulan kebijakan yang telah disampaikan Iperindo kepada pemerintah, antara lain pembebasan pajak impor untuk komponen kapal yang belum bisa dibangun di dalam negeri serta insentif dan suku bunga rendah bagi pelayaran nasional yang membangun kapalnya di galangan nasional.

Hal lain yang perlu diperhatikan pemerintah adalah masih tingginya ketergantungan pada bahan baku atau komponen impor. “Hampir 60 persen kapal yang dibuat menggunakan bahan baku lokal. Namun, jika dihitung nilainya tetap saja lebih besar yang impor karena beberapa komponen tidak tersedia di dalam negeri, seperti genset,” ungkap Anita. 

Oleh karena itu, pemerintah harus lebih mendorong industri penunjang galangan kapal dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada komponen dan bahan baku impor.

“Ketersediaan bahan baku lokal bisa mempengaruhi harga kapal yang diproduksi di dalam negeri. Kebijakan ini perlu dilakukan agar industri galangan kita bisa bersaing dengan Korea dan China,” ujarnya.

Selain bahan baku, masalah lahan dan sumber daya manusia berkualitas perlu segera disiapkan, terutama untuk mendukung program Tol Laut yang dicanangkan pemerintah. “Permasalahan itu sangat krusial, sebab membuat industri galangan kapal sulit berkembang,” Anita mengingatkan.

Penggemar olahraga hiking yang kini banyak meluangkan waktunya bersama keluarga di saat senggang ini mengungkapkan harapannya terhadap industri maritim nasional.

“Suatu saat industri maritim nasional akan maju, kesejahteraan masyarakat maritim meningkat, dan industri ini menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ungkap Anita. (Media Industri) (hlz/hlz)


Komentar