Kamis, 13 Desember 2018 | 15:07 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 03 Oktober 2018 10:22

Stakeholders Perlu Segera Cari Solusi Penurunan Ekspor di TPK Palembang

Aidikar M. Saidi
Agus Edi Santoso, GM IPC Cabang Boom Baru (tengah)

PALEMBANG -

Para pemangku kepentingan perlu segera mencarikan solusi dari merosotnya volume ekspor di Pelabuhan Boom Baru Palembang di pengujung tahun ini.

Agus Edi Santoso, General Manager IPC Cabang Boom Baru Palembang, mengatakan solusi diperlukan agar sejumlah komoditas ekspor andalan Sumatera Selatan bisa bangkit kembali, terutama yang dikirimkan melalui Pelabuhan Boom Baru.

“Perlu ada Focus Group Discussion (PGD) untuk masing-masing stakeholders untuk mencari solusi penurunan volume ekspor akhir-akhir ini,” katanya kepada Translogtoday, Selasa (2/10/2018).

Agus mengungkapkan hal itu menanggapi merosotnya pengiriman peti kemas ekspor lebih dari 1.000 TEUs pada Agustus 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Kalau dilihat, komoditas ekspor yang anjlok hanya yang menggunakan peti kemas dan mungkin terbatas pada komoditas karet, kelapa, dan produk olahan," tuturnya.

Namun, lanjut Agus, untuk ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya, batubara, dan komoditas lain kondisinya mungkin berbeda.

Meski demikian, dia tidak memiliki data pengapalan ekspor batubara dan CPO dari Sumatera Selatan. "Kalau itu, silakan minta ke PT Bukit Asam untuk data pengapalan ekspor batubara," katanya.

Arus peti kemas atau throughput muatan ekspor di Pelabuhan Boom Baru dilaporkan terus turun menjelang akhir tahun ini seiring dengan merosotnya pengiriman sejumlah komoditas ke luar negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nasional pada Agustus 2018 tercatat US$15,81 miliar, turun 2,9% dibandingkan dengan pencapaian bulan sebelumnya US$16,29 miliar.

Kondisi ini sejalan dengan penurunan throughput muatan ekspor dari Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Boom Baru yang melalui transhipment ke Singapura sekitar 6%. Demikian juga transhipment ke Pelabuhan Tanjung Priok turun 14%.

Berdasarkan data IPC TPK Palembang, hingga Agustus 2018 total pengapalan ekspor tercatat 47.439 TEUs, yaitu 56% transhipment ke Singapura dan 44% melalui Jakarta.

Padahal pada periode yang sama 2017, ekspor pernah mencapai 57.320 TEUs, 52% di antaranya transhipment ke Singapura dan 48% ke Jakarta.

Secara total, ekspor yang dikapalkan dari Palembang (via Singapura dan Jakarta) sampai dengan Agustus 2018 juga mengalami penurunan. Namun throughput secara keseluruhan (ekspor/impor dan bongkar/muat) naik sekitar 6%. (hlz/hlz)


Komentar