Senin, 10 Desember 2018 | 15:46 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Sabtu, 06 Oktober 2018 17:51

5 Asosiasi di Pelabuhan Teluk Bayur Ancam Mogok mulai 8 Oktober

Aidikar M. Saidi
H. M. Tauhid

PADANG -

Lima asosiasi di Pelabuhan Teluk Bayur Padang mengancam stop operasi selama satu minggu, menuntut agar kegiatan yang dikuasai PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dikembalikan kepada perusahaan bongkar muat.

Tokoh sentral masyarakat pekerja Pelabuhan Teluk Bayur, H. M. Tauhid, mengungkapkan para pekerja TKBM (tenaga kerja bongkar muat), perusahaan pelayaran, perusahaan angkutan truk, dan perusahaan logistik sepakat menggelar aksi diam dan tidak bekerja mulai Senin (8/10/2018). 

Para pekerja itu tergabung dalam lima organisasi yang menjadi penyangga kegiatan di pelabuhan terbesar Sumatera Bagian Barat, yakni Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI), Asosiasi Perusahaan Pelayaran (INSA), Asosiasi Logistik dan Forwardimg Indonesia (ALFI), serta Koperbam Pelabuhan Teluk Bayur dan Koperasi Angkutan Barang Pelabuhan (Kopanbabel) Teluk Bayur.

"Kegiatan kami semakin tersisih karena hampir semua dikerjakan oleh PT Pelabuhan Indonesia II di Pelabuhan Teluk Bayur," ungkap Tauhid kepada Translogtoday, Sabtu (6/10/2018).

Aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan kegiatan Pelabuhan Teluk Bayur Bangkit dan Malagak yang diselenggarakan oleh Pelindo II Cabang Teluk Bayur. Menurut Tauhid, aksi Senin adalah puncak kekecewaan masyarakat pekerja Teluk Bayur.

“Aksi Senin besok itu tidak serta merta, organisasi asosiasi sebelumnya sudah menempuh cara-cara elegan untuk mengembalikan eksistensi asosiasi dan pekerja di Teluk Bayur, tapi seperti tidak digubris, sehingga  asosiasi mengambil sikap untuk diam dan tidak beraktifitas Senin,” tegas Tauhid.

Dia mengatakan hampir 100% kegiatan di pelabuhan kini sudah diambil oleh Pelindo II Cabang Teluk Bayur.

“Dari 12 dermaga, sembilan sudah dikuasai Pelindo. Sisa tiga dermaga Pelindo masih ngotot mengambil alih lewat cara-cara menakuti pemilik barang dengan fasilitas dam biaya tambahan kalau bukan Pelindo perusahaam bongkar muatnya. Kondisi ini sudah berlangsung lama,” ungkapnya.

Keluhan masyarakat pekerja di Pelabuhan Teluk Bayur itu sudah disampaikan kepada pihak terkait. “Mulai dari Menteri Perhubungan, Ombudsman, bahkan ke Presiden Jokowi," tuturnya.

General Manager Pelindo II Cabang Teluk Bayur Armen Amir mengatakan, sebetulnya hanya empat komoditas yang ditunjuk oleh cargo owner untuk dikerjakan oleh Pelindo II. 

"Penanganan komoditas itu membutuhkan investasi alat untuk mempercepat pelayanan bongkar muat. Kecepatan bongkar muat yang tinggi itu menghemat biaya logistik di pelabuhan," ujar Armen. (hlz/hlz)


Komentar