Senin, 22 Oktober 2018 | 16:50 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Selasa, 09 Oktober 2018 07:30

Kapal Besar Mulai Singgahi Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu

Aidikar M. Saidi
(Translogtoday/ams)

BENGKULU -

Kapal ukuran besar mulai menyinggahi Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, setelah alur di area pintu masuk pelabuhan itu selesai dikeruk hingga kedalaman -10 meter LWS (lower water spring) pada 3 Oktober lalu.

Kapal besar pertama yang sandar di pelabuhan itu yakni vessel batubara berbendera asing dengan bobot 35.000 DWT (death weight tonage). Sebelumnya, kedalaman alur hanya -5 meter LWS sehingga hanya mampu melayani tongkang (barge) berbobot 9.000 Ton.

General Manager PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Bengkulu Hambar Riyadi mengatakan penambahan kedalaman alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai ini diharapkan meningkatkan ekspor komoditas Bengkulu, seperti: batubara, cangkang, klinker/semen dan crumb rubber.

Komoditas itu selama ini menjadi andalan ekspor Bengkulu ke beberapa negara di kawasan Asia, China, India, dan Amerika.

"Biaya pengerukan alur pelayaran ini mencapai Rp65 miliar, kedalaman alur pelabuhan diharapkan mencapai kondisi ideal sehingga dapat meningkatkan produktivitas hingga lebih 40% dari kondisi saat ini," ujarnya, Senin (8/10/2018).

Pendalaman alur itu, tutur Hambar, tentunya diimbangi pula dengan peningkatan pelayanan untuk mendukung aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan sebanding dengan peningkatan arus komoditas utama Bengkulu. 

“Sehingga pada akhirnya akan turut membantu kelancaran distribusi barang dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Bengkulu dan sekitarnya,” kata Hambar. 

Menurut dia, upaya yang dilakukan oleh Pelabuhan Bengkulu tidak hanya membuat alur pelayaran menjadi ideal, tetapi juga menambah beberapa fasilitas dermaga tambahan untuk penanganan bongkar muat curah kering ini. 

Adapun fasilitas tambahan dua unit dermaga untuk kegiatan bongkar muat batubara yakni Dermaga Jetty A dan Dermaga Eks Bukit Sunur dengan total investasi mencapai  Rp24 miliar. 

Untuk Jetty A telah diselesaikan 100% dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa conveyor dengan kapasitas 1.500 ton per jam. 

Dermaga Eks Bukit Sunur sedang dilaksanakan pembangunan berupa dermaga floating rampdooryang nantinya digunakan untuk melayani kapal jenis tongkang dengan kapasitas 10.000 ton.

Fasilitas ini didukung dengan lapangan dan peralatan bongkar muat berupa 1 unit excavator dan 1 unit whell loader dengan nilai total investasi mencapai Rp6,5 miliar.

Terminal Curah Kering

Apabila dua dermaga pada terminal curah kering sudah dioperasikan, pendapatan dan nilai aset perusahaan akan meningkat dan pada gilirannya memberikan tambahan deviden kepada pemerintah.

Menurut Hambar, dampak langsung dari pembangunan terminal ini, pertama, peningkatan kapasitas daya tampung kapal dengan kapasitas bongkar muat curah kering dari 2,4 juta ton menjadi 3,5 juta ton, serta dapat melayani kapal besar (mother vessel) dan kapal jenis tongkang. 

Kedua, tersedianyadedicated terminal untuk barang curah kering sesuai dengan jenis barang yang dibongkar dan muat di terminal tersebut.

Ketiga, mampu melayani kapal-kapal diatas 35.000 ton dengan peningkatkan produktivitas terminal. Tentunya terminal ini akan menjadi Port of Choice (pelabuhan pilihan) bagi kapal linerinternasional dan regional yang pada akhirnya terminal akan menjadi Hub Port di pantai barat Indonesia.

Keempat, membantu menurunkan biaya logistic costd engan tersedianya terminal yang didukung dengan peralatan dan produkvitas tinggi. disertai dengan servis pelayanan yang baik. 

“Tentunya ini memberikan kontribusi pada efisiensi biaya transportasi yang ditanggung oleh pelanggan/pemilik barang/cargo owner yang pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan perekonomian nasional,” kata Hambar.

Kelima, peningkatan aktivitas dan operasional pelabuhan yang diimbangi dengan produktivitas dan standar pelayanan yang baik, akan berdampak pada peningkatan penghematan biaya operasional kepelabuhanan dan penghematan nilai waktu (value of time). (hlz/hlz)


Komentar