Rabu, 12 Desember 2018 | 05:47 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Rabu, 10 Oktober 2018 14:13

Proses Distribusi FAME untuk Program B-20 Tidak Efisien

Translog Today
Pelabuhan di Indonesia (repro)

JAKARTA - Indonesian National Shipowners' Association (INSA) menilai sistem distribusi B-20 yang ditetapkan Pemerintah c.q Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Peraturan Menteri ESDM No.2026 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri ESDM No.6034 tahun 2016, tidak efisien dan menimbulkan biaya tinggi di sektor transportasi laut.

Penyebabnya adalah proses pencampuran Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis FAME sebesar 20% yang saat ini ditetapkan pada 70 terminal bahan bakar minyak (TBBM), bukan pada kilang minyak PT Pertamina.

Kebijakan pencampuran BBM dan FAME tidak pada kilang PT Pertamina menimbulkan biaya logistik tingg. Saah satunya karena tidak semua pelabuhan tujuan kapal pengangkut FAME memiliki infrastruktur yang memadai untuk melaksanakan proses pencampuran BBM dengan FAME.

Terbukti, tidak sedikit anggota INSA yang melaporkan bahwa terdapat kapal pengangkut FAME yang terpaksa menjadi floating storage komoditas FAME sebelum proses pencampuran BBM dengan FAME dilaksanakan di pelabuhan tujuan.

"Sorong misalnya, sampai hari ini tidak ada tangki untuk penerimaan FAME sehingga kapal terpaksa menjadi floating storage hingga proses pencampuran dilaksanakan," kata Johnson W. Sutjipto, Ketua Umum INSA.

Seharusnya, pencampuran BBM dan FAME 20% dilakukan di kilang Pertamina yakni RU II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan dan RU VII Kasim dan pelabuhan penerima impor solar saat ini yakni Kotobaru dan Tuban.

Saat ini, terdapat 12 lokasi pabrik FAME yang meliputi Belawan, Batam, Bayas, Dumai, Panjang, Marunda, Bekasi, Gresik, Bagendang, Balikpapan, Tarjun dan Bitung dengan total kapasitas sekitar 10 juta metrik ton per tahun.


(aji/hlz)


Komentar