Senin, 22 Oktober 2018 | 17:27 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Jumat, 12 Oktober 2018 16:43

INSA Beri Catatan Khusus Inefisiensi Distribusi FAME Program B-20

Translog Today
Johnson W. Sutjipto (kanan) dan Menhub (kedua kiri) (INSA)

JAKARTA - Indonesian National Shipowners' Association (INSA) memberikan tiga catatan khusus terhadap pola distribusi FAME untuk pencampuran BBM biodiesel 20% (B-20) yang menyebabkan biaya tinggi.

Pertama, point of delivery terlalu banyak yaitu 70 titik jika dibandingkan dengan tujuh refinery dan dua storage center PT Pertamina (Persero), sehingga jumlah muatannya sedikit, tapi frekuensi perjalanan menjadi lebih banyak.

Kedua, infrastruktur penampungan pada 70 titik delivery FAME sangat memprihatinkan bahkan minim sehingga kapal-kapal dijadikan storage atau tangki penampungan.

Ketiga, pola distribusi FAME dari pabrik ke titik delivery yang tidak masuk akal. Misalnya, pabrik di Indonesia Timur men-delivery FAME ke Indonesia Barat atau sebaliknya.

Ketua Umum INSA Johnson W. Sutjipto mengatakan untuk mendukung pola distribusi BBM B-20 yang efisien dan efektif, proses pencampuran BBM dengan FAME seyogyanya dilakukan pada kilang Pertamina dan pelabuhan penerima impor BBM.

Dia menjelaskan pola distribusi seperti ini akan menjadikan kilang milik Pertamina dan pelabuhan penerima impor BBM solar sebagai hub sebelum proses distribusi BBM yang sudah bercampur dengan FAME dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Saat ini terdapat 12 lokasi pabrik FAME meliputi Belawan, Batam, Bayas, Dumai, Panjang, Marunda, Bekasi, Gresik, Bagendang, Balikpapan, Tarjun dan Bitung dengan total kapasitas sekitar 10 juta metrik ton per tahun.

Adapun kilang Pertamina antara lain RU II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan dan RU VII Kasim maupun pelabuhan penerima impor solar saat ini, yakni Kotobaru dan Tuban. (adm/hlz)


Komentar