Minggu, 16 Desember 2018 | 03:28 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 21 Oktober 2018 21:00

Cegah Kongesti di Tanjung Priok, Eks-Terminal 2 JICT Dikelola IPC Container Terminal

Aidikar M. Saidi

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC akan menyiapkan terminal khusus untuk menampung kapal muatan transhipment dan domestik di eks-Terminal 2 PT Jakarta Internasional Container Terminal (JICT).

Adapun pengelolaan terminal tersebut akan diserahkan kepada PT IPC Container Terminal (IPCCT), anak perusahaan Pelindo II.

"Terminal 2 eks-JICT itu akan diserahkan pengelolaannya ke IPC Container Terminal mulai tahun 2019," ungkap Saptono Irianto, Direktur Komersial Pelindo II, Minggu (21/10/2018).

Dia berharap pengelolaan Terminal 2 JICT oleh IPCCT nantinya mampu mengatasi kongesti atau kemacetan di Terminal 3 Tanjung Priok.

Terminal 2 JICT diketahui sudah lama tidak dioperasikan karena kapal feeder yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok berkapasitas besar, yakni di atas 500 TEUs, sehingga tidak mampu dilayani di terminal itu.

Sebelumnya Serikat Pekerja JICT pernah menyoroti pemanfaatan eks-Terminal 2 JICT sebagai buffer area untuk truk peti kemas, menyusul masalah kongesti penumpukan di Terminal 3 Tanjung Priok yang hingga kini belum bisa diatasi.

Ketua Umun SP JICT Nova Hakim mengatakan, manajemen IPC seharusnya lebih hati-hati mengantisipasi kemacetan Terminal 3 Tanjung Priok dengan memanfaatkan lahan eks-Terminal 2 JICT sebagai buffer area parkir truk.

Bahkan jika Terminal 2 JICT bisa dikelola sesuai dengan peruntukannya, bisa menjadi alternatif solusi kongesti di Terminal 3.

“Semestinya fasilitas eks-Terminal 2 JICT dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai terminal peti kemas bukan hanya sebagai buffer parkir,” tegas Nova beberapa waktu lalu. Dia khawatir Dirut Pelindo II mendapat masukan yang salah.

Selama ini, Terminal 2 JICT menganggur dan tidak menghasilkan pendapatan. Menurut Nova, terminal itu seharusnya dapat menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Jika ada audit, tentu akan ditemukan potensi kerugian di sana.

“Kita menginginkan jangan sampai ada kesan bahwa terjadi salah kelola Terminal 2 JICT karena tidak digunakan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Dalam surat yang ditandatangani Dirut Pelindo II Elvyn G. Masassya No. FP.010/4/8/1/PI.II-16 tanggal 4 Agustus 2016 disebutkan, pemanfaatan buffer area di eks-Terminal 2 JICT itu dalam rangka menjamin kelancaran proses logistik dan distribusi barang di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kepadatan kegiatan delivery peti kemas yang berpotensi kongesti di Pelabuhan Tanjung Priok terus terulang di Terminal 3 sejak masuknya kapal peti kemas besar NYK Line dan Maersk Line.

Masuknya kedua kapal peti kemas tersebut memicu terjadinya kepadatan karena datang bersamaan, sementara fasilitas container yard terbatas dan lapangan parkir truk di Terminal 3 tidak tersedia. (hlz/hlz)


Komentar