Minggu, 18 November 2018 | 00:51 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Sabtu, 27 Oktober 2018 12:14

Pelabuhan Marunda Dibanjiri Muatan Curah, Tanjung Priok Kehilangan Pasar 33 Juta Ton

Aidikar M. Saidi
Kegiatan bongkar muatan pasir kuarsa di Pelabuhan Marunda (Translogtoday/ams)

JAKARTA -

Pelabuhan Marunda Jakarta kini semakin diminati oleh kapal muatan curah. Perkembangan ini membuat Pelabuhan Tanjung Priok kehilangan pasar sekitar 33 juta ton untuk throughput tahun 2017.

Tahun ini, Pelabuhan Marunda diprediksikan mampu meraup pasar curah kering dan cair sampai dengan 40 juta ton atau meningkat lebih dari 12%.

"Bahkan 2019 nanti sudah banyak permintaan (kapal) untuk masuk ke Marunda berupa komoditas curah kering dan cair," ungkap Joserizal, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda, Jakarta Utara, kepada Translogtoday, pekan lalu.

Untuk komoditas bongkar pasir saja, kata Joserizal, ada sekitar 1,5 juta ton dipindahkan kegiatannya oleh PT Walie Jaya dari Tanjung Priok ke Marunda mulai 2019 setelah kontraknya berakhir dengan PT Pelabuhan Indonesia II/IPC.

Saat ini, Pelabuhan Marunda mempersiapkan diri untuk menampung komoditas aspal cair untuk pengapalan 2 kali sebulan sekitar 8.000 hingga 10.000 ton, ditambah dengan beberapa komoditas CPO dan perusahaan perminyakan yang segera investasi tanki untuk menampung muatan cair.

Joserizal mengatakan perkembangan tersebut bisa dilihat datanya pada akhir 2019 nanti karena potensi muatan tersebut baru akan dimulai pada awal tahun depan.

Menurut dia, data kunjungan kapal di Marunda terus meningkat sejak 2016 sebanyak 5.500 call, naik menjadi 7.900 call pada 2017, dan per September 2018 bertambah menjadi 9.900 call.

Kedalaman alur di Marunda memang sangat terbatas, yakni untuk dermaga Kali Bencong kedalaman alur hanya -4 meter dengan panjang dermaga 1.700 meter,  Marunda Center -9 meter dengan panjang dermaga 1.000 meter, dan dermaga KCN sepanjang 800 meter dengan kedalaman -5,5 meter.

Joserizal mengatakan BUP (Badan Usaha Pelabuhan) yang eksis di Marunda baru ada dua, yakni PT Marunda Centre Terminal (MCT) dan PT Karya Citra Nusantara (KCN), sedangkan dermaga Kali Bencong dikelola secara non-komersial oleh pemerintah atau KSOP.

Hengkang ke Marunda

Berdasarkan informasi dari perusahaan bongkar muat (PBM) di Pelabuhan Tanjung Priok, hengkangnya komoditas curah ke Marunda karena mereka keberatan untuk membayar sharing 40% dari tarif bongkar muat ke PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), anak perusahaan Pelindo II.

Sumber PBM yang keberatan disebutkan jati dirinya itu mengatakan, sudah banyak PBM anggota APBMI (Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia) yang mengalihkan kegiatan mereka ke Marunda yang tidak mengenal sharing ke BUP.

Saat ini muatan curah di Pelabuhan Tanjung Priok tinggal 13 juta ton setelah sejumlah PBM pindah ke Marunda.

Untuk diketahui, di Marunda terdapat sejumlah BUP pengelola terminal, yakni MCT, KCN, dan di seputar Kali Blencong. Dermaga KCN dikelola oleh swasta, MCT oleh investor Singapura, dan Kali Blencong oleh pemerintah.

Khusus di Kali Blencong, sedang dilakukan penataan dan pengerukan supaya alur pelayaran tidak dangkal, serta keluar masuk kapal menjadi lebih lancar.

Komoditas curah yang dilayani, antara lain breakbulk, pulp, offshore, kendaraan dan alat berat, batubara, crude palm oil (CPO) dan pasir. Dermaga Kali Blencong yang dikelola Ditjen Hubla menangani bongkar muat batubara, pasir, dan CPO.

Menurut Joserizal, komoditas bongkar sepanjang tahun 2017 didominasi oleh curah kering (batubara, pasir, kaolin), sedangkan bongkar curah cair yakni BBM dan CPO.

“Upaya penataan di Kali Blencong, kami fokus pada kebersihan dermaga yang salah satu solusinya pengadaan stockpile batubara. Selain kebersihan, kendala tanpa stockpile juga terkait waktu produktivitas bongkar muat,” ujarnya. (hlz/hlz)


Komentar