Kamis, 21 Maret 2019 | 12:18 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Senin, 29 Oktober 2018 07:30

Kelola 4 Dermaga Pelindo II Ciwandan, PTP Sulit Rebut Pasar Curah di Banten

Aidikar M. Saidi
Pelabuhan Cigading, Banten

JAKARTA -

PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP), anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC, ternyata tidak mudah penetrasi dan merebut pasar curah kering dan cair di kawasan pelabuhan Banten.

Padahal, Pelindo II Cabang Ciwandan secara bertahap telah menyerahkan empat dermaga untuk dikelola oleh PTP.

Pelabuhan Umum Ciwandan yang dikelola oleh Pelindo II hanya mampu meraih pasar muatan di Banten sekitar 7 juta ton pada 2017, sedangkan Pelabuhan Umum Cigading 18 juta ton. 

Artinya hanya 25 juta ton muatan curah yang dilayani di pelabuhan umum, sisanya ditangani oleh TUKS (Terminal Untuk Kepentingan Sendiri).

Pangsa muatan curah kering dan cair di Banten sekitar 63 juta ton pada 2016 dan volumenya pada tahun ini diperkirakan mencapai 80 juta ton dengan asumsi tumbuh 20%.

Sangat Berat 

General Manager Pelindo II Cabang Ciwandan Hendro Haryono mengakui pihaknya sangat berat mempertahankan pasar sehingga pengoperasian dermaga diserahkan kepada PTP secara bertahap. 

Menurut dia, persaingan kegiatan bongkar muat di Banten sangat ketat dan tidak mungkin dilakukan seperti Pelabuhan Tanjung Priok dengan memungut sharing 40%, sebab pasar bisa hengkang.

Saat ini, katan Hendro, baru empat dermaga yang diserahkan kepada PTP dari delapan dermaga sepanjang 1.000 meter dengan kedalaman -8 meter sampai -16 meter. 

"Jadi empat dermaga yang diserahkan berikut dengan pasar 1,5 juta ton per tahun dialihkan ke PTP, karena PTP masuk Banten tidak membawa pasar baru," ujarnya kepada Translogtoday, pekan lalu.

Dia mengatakan dari 7 juta ton throughput yang diraih Pelabuhan Ciwandan, sekitar 2,5 juta ton di antaranya muatan curah. Adapun di Pelabuhan Cigading yang dikelola oleh PT Krakatau Bandar Samudra (KBS) dengan throughput 18 juta ton, sebanyak 5 juta ton adalah muatan curah.

Pasar tersebut, lanjut Hendro, ditangani dengan sangat hati-hati oleh unit Usaha Terminal (Uster) agar muatan dan kapal tidak pindah ke Cigading atau ke TUKS. (hlz/hlz)


Komentar