Minggu, 16 Desember 2018 | 04:12 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Minggu, 28 Oktober 2018 20:23

Pelabuhan Teluk Bayur Jajaki Kerja Sama dengan Fremantle Port dan Chennai Port

Aidikar M. Saidi
Rapat rencana kerja sama Teluk Bayur di Kemenlu (istimewa)

JAKARTA -

Pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama port to port antara Pelabuhan Teluk Bayur Padang dengan Fremantle Port (Australia Barat) dan Chennai Port (India).

Penjajakan kerja sama dibahas di Direktorat Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri, melibatkan Kepala Pusat Fasilitas Kerjasama Kementerian Dalam Negeri. Rapat tersebut juga dihadiri oleh Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah.

"Alhamdulillah akhirnya rencana kerja sama Port to Port itu sudah dibahas dan diputuskan di Kemenlu," ungkap Armen Amir, General Manager PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Teluk Bayur kepada Translogtoday, Minggu (28/10).

Chennai Port dikenal juga sebagai Pelabuhan Madras, merupakan pelabuhan kontainer terbesar ketiga di India, setelah Pelabuhan Nhava Sheva dan Mundra, juga pelabuhan terbesar di Teluk Benggala. 

Adapun Fremantle Port dikenal sebagai pelabuhan pariwisata dan tempat penyewaan kapal pesiar mewah di Australia Barat. Kota Fremantle yang memiliki hubungan friendship city dengan Surabaya dan Padang ini memiliki riwayat sebagai salah satu kawasan di Australia yang memiliki budaya maritim yang kental.

Selain langsung berbatasan dengan Samudera India, di wilayah tersebut dapat ditemukan berbagai fasilitas yang terkait langsung dengan geliat aktivitas kemaritiman.

Salah satunya adalah Fremantle Port. Pelabuhan yang dikelola oleh negara bagian (afederated state) Australia Barat ini adalah pelabuhan terbesar keempat di Australia, setelah Melbourne, Sydney dan Brisbane. 

Di pelabuhan itu segala aktivitas bongkar muat berbagai komoditas dilakukan. Dibandingkan dengan ekspor, Fremantle Port lebih banyak melayani kegiatan impor.

Di tengah kesibukan aktivitas pelabuhan, geliat pariwisata di Fremantle City sangat memesona. Di sini, wisatawan lokal maupun dari luar kota dan mancanegara, disuguhi oleh ratusan bangunan cagar budaya yang dibangun di era abad ke-19, saat kawasan itu mengalami demam emas. (hlz/hlz)


Komentar