Selasa, 22 Oktober 2019 | 21:06 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Senin, 29 Oktober 2018 21:44

Hindari Biaya Tinggi di Priok, Kapal Raksasa Kaji Ship to Ship via Pelabuhan Marunda

Aidikar M. Saidi
Bongkar muatan curah di Pelabuhan Marunda (Translogtoday/ams)

JAKARTA -

Kapal raksasa jenis post panamax mengangkut sedikitnya 70.000 ton bijih besi impor milik pabrik baja PT Gunung Garuda mulai melirik fasilitas dermaga di Pelabuhan Marunda, Jakarta.

Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Marunda Joserizal mengatakan cargo owner bahan baku industri baja itu tengah menghitung biaya ship to ship menggunakan Pelabuhan Marunda.

"Soalnya kapal raksasa curah jenis post panamax membutuhkan dermaga dengan kedalaman -13 meter, sehingga tidak bisa sandar langsung di dermaga Pelabuhan Marunda," ujarnya kepada Translogtoday.

Adapun fasilitas dermaga yang tersedia di Pelabuhan Marunda paling dalam -9 meter tidak mungkin mampu melayani kapal raksasa tersebut.

Mungkin saja, kata Joserizal, memilih sistem ship to ship bisa menghemat biaya tambatan dibandingkan dengan sandar dermaga, meskipun double handling dan sewa tongkang.

Sebetulnya, menurut dia, kapal itu lebih tepat disandarkan di Pelabuhan Tanjung Priok tetapi mungkin terkendala masalah dengan biaya bongkar yang sangat tinggi. Di Pelabuhan Marunda, biaya logistik jauh lebih murah dibandingkan dengan Tanjung Priok.

Namun kini cargo owner sedang menghitung biaya ship to ship yang double handling ditambah dengan sewa tongkang, lebih murah dibandingkan bongkar di Pelabuhan Tanjung Priok dengan plus sharing 40%.

Cargo owner barang curah kini lebih memilih carter kapal berkapasitas angkut besar untuk menghemat biaya freight atau ongkos angkut.

Pilihan lainnya adalah Pelabuhan Cirebon dan Pelabuhan Banten, tetapi biaya angkut ke pabrik di Cibitung sangat tinggi.

Sast ini, industri baja di dalam negeri sudah mulai beralih ke bijih besi untuk bahan baku, menyusul terjadi kelangkaan besi tua. (hlz/hlz)


Komentar