Rabu, 23 Januari 2019 | 13:00 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelayaran
Kamis, 27 Desember 2018 15:30

Angkutan Dry Bulk Membaik di 2018

Translog Today
Teddy Yusaldi (repro)

JAKARTA - Indonesian National Shipowners' Association (INSA) memperkirakan pangsa pasar angkutan muatan curah kering (dry bulk cargo) selama 2018 untuk domestik semakin membaik dibandingkan dengan lima tahun terakhir.

"Hal itu dipicu oleh membaiknya harga komoditas batubara dan meningkatnya permintaan ekspor maupun kebutuhan pasokan domestik," kata Wakil Ketua Umum INSA Teddy Yusaldi.

Teddy menjelaskan sejak tahun 2014, ekspor batu bara Indonesia terus menurun yakni dari 382 juta ton pada 2014 turun menjadi 375 juta ton pada 2015, dan 365 juta ton pada 2016 serta 364 juta ton pada 2017.

Sedangkan selama periode Januari-September 2018, ekspor batu bara sudah mencapai 318 juta ton dari target 485 juta ton dan ditambah 100 juta ton lagi menjadi 585 juta ton. "Karena itu, angkutan dry bulk membaik di 2018," katanya.

Di samping ekspor, supply batubara domestik yang didukung kewajiban mengisi pasar DMO (Domestic Market Obligation) terus meningkat.

Hingga Agustus 2018, penyerapan batubara domestik mencapai 75 juta ton dari target 121 juta ton.

Teddy menilai Permendag No.82 tahun 2017 sebenarnya memberikan harapan akan meningkatnya kinerja pelayaran nasional pada kegiatan angkutan drybulk. Akan tetapi, kebijakan tersebut ditunda hingga Mei 2020.

Permendag tersebut akan meningkatkan nilai tambah perdagangan luar negeri Indonesia terhadap negara dengan menguatnya cadangan devisa dan memperkecil defisit neraca jasa yang disumbangkan dari angkutan batu bara.

Oleh karena itu, Pemerintah seharusnya segera mempersiapkan instrumen pendukung guna percepatan pelaksanaan Permendag tersebut, khususnya dengan memperbaiki sektor perpajakan angkutan laut ekspor dan impor Indonesia.

  (aji/hlz)


Komentar