Kamis, 21 Maret 2019 | 12:18 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Jumat, 08 Februari 2019 21:49

Produksi Terminal Teluk Lamong Naik Signifikan pada 2018

Ayu Puji
(TTL)

SURABAYA - PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mencatat kinerja sangat meyakinkan pada 2018, seiring dengan semakin banyaknya pengguna jasa yang memanfaatkan pelayanan terminal modern dan ramah lingkungan ini.

Meskipun baru beroperasi 3,5 tahun, anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) ini mampu menyediakan pelayanan bongkar muat dengan efisiensi tinggi, baik untuk peti kemas maupun curah.

Berdasarkan data TTL, arus peti kemas sepanjang 2018 mencapai 637.733 TEUs atau tumbuh 29,3% dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 493.071 TEUs. Adapun arus curah kering mencapai 2,5 juta ton, melonjak 108,3% dibandingkan dengan realisasi 2017 sebanyak 1,2 juta ton.

Pertumbuhan arus peti kemas terlihat pada peningkatan volume, baik pada peti kemas internasional maupun domestik. Volume arus peti kemas rata-rata naik 32% pada 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

dothy

"Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan yang signifikan pada arus logistik nasional, khususnya destinasi Pelabuhan Tanjung Perak," kata Direktur Utama TTL Dothy di Surabaya, Jumat (8/2).

Dia mengungkapkan, porsi arus peti kemas internasional di TTL menyumbang 51% dan sisanya arus peti kemas domestik. "Peningkatan volume peti kemas ini menunjukkan bahwa pengguna jasa telah mengapresiasi pelayanan TTL yang modern dan ramah lingkungan," ujar Dothy.

Perluasan CY

Corporate Communication Manager TTL Reka Yusmara menambahkan, TTL sedang memperluas lapangan penumpukan (container yard) sebanyak 5 blok dalam rangka pengembangan terminal fase kedua, sehingga total CY pada tahun ini menjadi 15 blok.

"Perluasan CY ini disiapkan untuk memberikan pelayanan yang lebih prima kepada pengguna jasa mengingat volume peti kemas terus meningkat," katanya.

Seperti halnya peti kemas, lanjut Reka, produksi curah kering juga mengalami pertumbuhan signifikan. Pada 2018, kunjungan kapal tercatat 69 call (kedatangan kapal) atau meningkat 87,5% dibandingkan dengan 2017 sebanyak 38 call.

"Peningkatan arus curah kering itu setidaknya terlihat pada dua hal, yaitu peningkatan jumlah kapal curah kering dan perubahan perilaku pasar (pengguna jasa)," jelasnya.

Menurut dia, jumlah kedatangan kapal naik signifikan pada 2018 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam setiap call-nya, volume muatan kapal curah kering juga bertambah.

Selain itu, lanjut Reka, sebagian pengguna jasa mengubah pola bongkar muatan mereka, dari sebelumnya satu muatan dibongkar di beberapa terminal (pelabuhan) menjadi single port atau seluruh muatan dibongkar di satu terminal (TTL).

"Perubahan pola yang terjadi sejak pengintegrasian peralatan dan fasilitas curah kering di TTL ini mendorong penambahan volume yang dibongkar di TTL meningkat hingga dua kali lipat," ungkap Reka. (hlz/hlz)


Komentar