Kamis, 19 September 2019 | 03:12 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 20 Februari 2019 17:05

IPC Siap Bertransformasi Menjadi Trade Corridors pada 2020

Translog Today
(IPC)

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC agresif bersinergi dengan semua pemangku kepentingan untuk menghadirkan pelayanan kepelabuhanan yang efisien guna mewujudkan Visi 2020. 

Direktur Utama IPC Elvyn G Massassya mengungkapkan, IPC akan bertransformasi dari Terminal Operator menjadi Trade Corridors pada tahun 2020, dari pemain infrastruktur menjadi pemain ekosistem.

“Nantinya IPC akan berperan sebagai Trade Facilitator dan lebih jauh lagi menjadi Trade Acceletator. Dengan konsep ini, IPC tidak hanya melayani bongkar muat barang tapi juga mendorong perdagangan melalui ekosistem,” ujarnya dalam Stakeholder Gathering di Museum Maritim Indonesia, Jakarta, Rabu (20/2).

Dalam acara itu, direksi dan jajaran internal IPC Group melakukan pertemuan dengan kementerian/lembaga, instansi pemerintah di lingkungan Jakarta Utara, asosiasi pengguna jasa, pelanggan, dan perbankan. 

Stakeholder Gathering yang mengangkat tema Dengan Sinergi, Bekerja Nyata Untuk Negeri, dibuka dengan paparan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro tentang Rencana Jangka Panjang Nasional Bidang Maritim. 

Stakeholder Gathering merupakan upaya IPC untuk duduk bersama dengan para pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dan membahas berbagai isu dalam upaya meningkatkan pelayanan di pelabuhan.

“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukungan dan berkontribusi sehingga IPC dapat memberikan pelayanan lebih efisien dalam upaya menurunkan biaya logistik dan mendorong perekonomian nasional,” kata Elvyn.

Dia mengatakan dunia kepelabuhanan dan logistik semakin menantang sehingga IPC membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholder untuk bersaing dengan pelabuhan internasional. “Ini adalah kerja bersama kita,” ujarnya.

Kinerja IPC

Pada kesempatan tersebut, Elvyn memaparkan rencana kerja perseroan dan kinerja, dimana IPC mencatat peningkatan di seluruh lini operasional baik arus barang, arus kapal dan arus penumpang pada 2018. 

Arus peti kemas pada tahun lalu naik 12,7% menjadi 7,80 juta TEUs dibandingkan dengan tahun sebelumnya 6,92 juta TEUs. Arus non peti kemas juga meningkat 8,54% menjadi 61,97 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya 57,09 juta ton. 

Adapun arus kapal naik 2,86% menjadi 208 juta GT dibandingkan dengan tahun sebelumnya 202,2 juta GT. Pertumbuhan signifikan terjadi pada arus penumpang yakni tumbuh 16,68% menjadi 714.930 orang dari 2017 sebanyak 612.680 orang (unaudited).  

Sejalan dengan itu, kinerja keuangan IPC juga meningkat pada 2018. Pendapatan usaha naik 4,94% menjadi Rp11,45 triliun (unaudited) dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp10,91 tiriliun. 

Laba bersih meningkat 9,95% menjadi Rp2,43 triliun (unaudited) dibandingkan tahun sebelumnya Rp2,21 triliun. EBITDA naik 4,71% sebesar Rp4,22 triliun (unaudited) dari Rp4,03 triliun pada 2017. 

Sementara itu, nilai BOPO yang menjadi ukuran efisiensi perusahaan tercatat menurun 0,35% menjadi 69,90% (unaudited) pada 2018 dari 70,15% pada tahun sebelumnya.

Sepanjang 2018, lanjut Elvyn, IPC telah melayani direct call ke empat benua, Inter Asia, Amerika, Eropa, Australia. Direct call telah mendorong peningkatan nilai ekspor 6,7% sebesar US$180,215 juta dari tahun sebelumnya US$168,828 juta.

Selain itu, proyek direct call berhasil menghemat biaya logistik hingga 20% atau US$300 per kontainer dan menghemat waktu pengiriman barang dari 31 hari menjadi 21 hari.

Bambang Brodjonegoro mengapresiasi capaian IPC tersebut, baik dari sisi keuangan dan operasional. 

Dia berharap capaian itu terus ditingkatkan sehingga IPC, khususnya Tanjung Priok, bisa menjadi pelabuhan penopang utama dan pendorong perekonomian nasional. 

"Saya berharap IPC bisa menjadi salah satu pelabuhan hub terbesar di Indonesia, yang bisa mengambil kembali pasar muatan kita yang selama ini dikirim melalui Singapura" ujarnya. (hlz/hlz)


Komentar