Jumat, 19 April 2019 | 11:16 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Selasa, 19 Maret 2019 08:28

Siapkan Tiga Strategi, IPC Paparkan Visi Besar Menjadi Trade Accelerator

Aidikar M. Saidi
(IPC)

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC akan bertransformasi dari Terminal Operator menjadi Trade Corridors. Nantinya IPC akan berperan sebagai Trade Facilitator dan lebih jauh lagi menjadi Trade Accelerator. 

“Dengan konsep tersebut IPC tidak hanya akan melayani bongkar muat barang tapi juga mendorong perdagangan melalui ekosistem,” ungkap Direktur Utama IPC Elvyn G. Massasya pada acara sharing session dengan jurnalis di Museum Martim Indonesia, Senin (18/3). 

Pada tahun ini, IPC berada pada fase Sustainable Superior Performance atau Kinerja Berkelanjutan dengan tiga fokus utama, yaitu Strategi Pertumbuhan (Growth Strategy) baik secara organik maupun non-organik, National Connectivity, dan program Ekspansi Global.

Melalui Strategi Pertumbuhan Organik, jelas Elvyn, IPC akan terus mengembangkan kapasitas internal, bagaimana produktivitas bisa lebih tinggi, layanan bisa lebih cepat, ongkos atau biaya bisa lebih kompetitif. 

“Tujuannya adalah agar pelayanan pelabuhan bisa lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah. Ini dalam rangka mendukung program pemerintah menurunkan biaya logistik,” ujarnya.

Adapun Strategi Pertumbuhan Non Organik merupakan keinginan IPC untuk mengambil alih pengelolaan pelabuhan UPT sehingga IPC bisa lebih bertumbuh dan pengelolaan pelabuhan-pelabuhan itu lebih optimal.

Fokus kedua pada tahun ini adalah National Connectivity, Elvyn mengatakan IPC akan terus membangun proyek-proyek strategis. 

IPC akan membangun pelabuhan untuk peti kemas, non peti kemas, curah cair, curah kering dan sebagainya yang akan dilengkapi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). 

“Ini juga dalam rangka meningkatkan konektivitas antar pulau di Indonesia dari Barat sampai Timur,” lanjut Elvyn.

Fokus ketiga, yakni IPC ingin menjalankan Ekspansi Global. Melalui strategi ini IPC memulai mengembangkan sayap dengan menjajaki potensi kerja sama di luar negeri.

IPC ingin menjadi operator pelabuhan di negara-negara lain, seperti Filipina, Vietnam, Bangladesh dan sebagainya yang rencananya dilakukan melalui anak-anak perusahaan IPC.

Pada kesempatan itu, Dirut IPC juga memaparkan bahwa sepanjang tahun 2018, IPC telah melayani direct call ke empat benua, yakni Inter Asia, Amerika, Eropa, dan Australia. 

Dia mengatakan, direct call telah berkontribusi dalam penghematan biaya logistik sebesar 40% lebih murah dari transhipment via Singapura. Selain itu, layanan ini menghemat waktu pengiriman barang dari 31 hari menjadi 21 hari.

Trilogi Maritim

Elvyn menandaskan, maritim adalah masa depan Indonesia dan masa depan harus dirancang. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan tiga aspek kunci mengembangkan dan mengeksplorasi potensi maritim yang disebut dengan Trilogi Maritim (Integrated Port Network).

Pertama, jelasnya, pengembangan pelabuhan di berbagai daerah di Indonesia untuk membuka konektivitas agar memiliki standar dan kualitas pelayanan. 

Kedua
, pengembangan transportasi pelayaran yang selama ini didominasi oleh kapal-kapal asing. Ketiga, pengembangan area industri yang linked dengan pelabuhan. 

“Apabila tiga hal ini bisa dilaksanakan dan semua policy maker sepakat dengan ini, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maritim besar did unia,“ tegas Elvyn. (hlz/hlz)


Komentar