Selasa, 25 Juni 2019 | 00:14 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Senin, 22 April 2019 16:11

Direct Call dari KTI Masih Transhipment ke Surabaya dan Jakarta, Ini Sebabnya

Aidikar M. Saidi

MAKASSAR - Direct call dari sejumlah pelabuhan di kawasan timur Indonesia (KTI) memiliki prospek besar, tetapi komoditas ekspornya masih banyak yang transhipment ke Surabaya dan Jakarta.

"Untuk meningkatkan direct call dari Indonesia Timur, Cargo Owner membutuhkan pelayanan dokumen dan barang melalui ,satu atap," ujar Dr. H. Farid Padang ST, MM, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero).

Dia mengakui belum semua instansi yang terkait dengan pelayanan ekspor impor melakukan pelayanan satu atap. Namun, tuturnya, Pelindo IV mengupayakan melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Gubernur agar mengeluarkan regulasi untuk pengusaha yang sejalan dengan program efisiensi ekspor dengan cara pengiriman seperti dilaksanakan oleh Pelindo IV termasuk pelayanan satu atap.

Sejumlah cargo owner menyebutkan yang belum masuk pelayanan satu atap itu tinggal karantina pertanian. "Memang yang belum maksimal adalah Karantina, sehingga diperlukan Peraturan Gubernur dan Surat Edaran Ketua Umum Apindo agar dapat memberikan kemudahan untuk direct call dari Indonesia Timur," tuturnya.

Hal tersebut sudah disampaikan kepada gubernur dan Apindo agar permintaan cargo owner tersebut diperhatikan.

Sebetulnya cargo owner atau eksportir tertarik untuk direct call a.l. adalah biaya murah, kepastian barang sampai tepat waktu dan proses dokumen dan pengapalan tampa hambatan.

Apakah kebutuhan cargo owner itu sudah dapat dipenuhi untuk direct call dari Indonesia Timur. Pasalnya, transhipment ke Surabaya dan Jakarta sudah pasti berbiaya tinggi karena double handling dan pengiriman barang belum tentu tepat waktu.

Berdasarkan data Pelindo IV, compound avarage growth rata rata dalam kurum waktu 2015 - 2018 arus petikemas ekspor naik 11,9%, impor naik 13,6% di Terminal Petikemas (TPK) Makassar, TPK Bitung dan TPK Kaltim Kariangau Terminal (KKT).

Impor direct call 19,5%, ekspor direct call naik 24,8% dan impor PIB (Pemberitahuan Impor Barang) alih status naik 13,6% serta ekspor alih status naik 24%.

Komoditas impor via Makassar adalah keramik, mesin, sparepart, sirup jagung, furnitur, biji plastik, batu tahan api, AC, pipa, vitamin hewan, kertas roll, coklat, tepung dan barang proyek.

Kemudian komoditas ekspor yang dikapalkan berupa rumput laut, marmer, biji mente, ikan beku, campuran, semen, besi, biji nikel, getah pinus, terigu, plywood, udang beku, merica, gurita, dan kayu.

Internasional direct call dan ekspor langsung di Pelabuhan Indonesia Timur adalah TPK Makassar, TPK Pantoloan, TPK Ambon, TPK Bitung, TPK Sorong dan TPK Jayapura.

Kemudian ke TPK Makassar kapal direcall adalah perusahaan pelayaran dari China yakni SICT masuk 4 call dalam sebulan. Throughput peti kemas yang dikuasai untuk direct call oleh pelayaran tersebut 1.965 TEUs atau 1.428 boxes rata2 sekali pengapalan. (hlz/hlz)


Komentar