Jumat, 24 Mei 2019 | 21:59 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Selasa, 23 April 2019 07:05

THC di Pelabuhan KTI Mahal, Ini Langkah Pelindo IV

Aidikar M. Saidi

MAKASSAR - Biaya terminal handling charges (THC) di pelabuhan di kawasan timur Indonesia (KTI) dinilai terlalu mahal karena harus membayar komponen biaya TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) 60% dari tarif jasa bongkar muat peti kemas.

Kalangan pengusaha forwarding dan pelayaran di Jakarta mengeluhkan THC untuk peti kemas 20 kaki harus membayar sebesar Rp1.762.232 dan ukuran 40 kaki Rp3.524.465.

Padahal, di Jakarta THC termahal Rp900.000 untuk peti kemas ukuran 20 kaki. Selain itu, penghitungan antara THC 20 kaki dan 40 kaki dilakukan seperti perkalian saja sehingga THC peti kemas 40 kaki ditagih dua kali lipat peti kemas 20 kaki.

Direkrut Utama PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Dr. H. Farid Padang ST, MM, mengatakan yang membuat mahal THC itu bukan Pelindo IV. Menurut dia, Pelindo IV hanya mendapat 40% komponen biaya dari tarif kesepakatan.

"Yang besar adalah komponen tarif TKBM sebesar 60%," katanya ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Senin (22/4),

Dia mengatakan pihaknya justru ingin membangun terminal peti kemas di semua pelabuhan KTI sebab apabila sudah mekanisasi komponen biaya TKBM sebetulnya hanya 3%.

"Saya cek tapi beda antara di timur dan barat seperti itu. Saya dorong Kemenko Kemaritiman untuk menandatangani segera izin mengelola TKBM tidak boleh single provider, tapi harus kompetitif," ujarnya.

Dia mengatakan di Ambon Kesepakatan berlaku per 1 Maret 2018 CHC 20 kaki FL Rp862.813, KBM Rp421.762 sehingga total Rp1.284.575.

Adapun relokasi S/S peti kemas 20' FL sebesar Rp100.000. Yang tinggi adalah upah TKBM yakni 32,83% dari THC sebesar Rp1.284.575.

Kalangan forwarding dan pelayaran di Jakata mengeluhkan biaya TKBM yang dinilai terlalu tinggi, termasuk untuk pemasangan kashing. Biaya TKBM dikenakan Rp1 juta untuk peti kemas 20 kaki dan Rp2 juta untuk 40 kaki.

"Forwarder saja yang pakai modal besar cuma dapat Rp500.000/box, baik 20 atau 40 kaki. Kayaknya lebih enak jadi TKBM di timur daripada punya perusahaan forwarding," ungkap pelaku usaha forwarding yang tidak ingin disebutkan namanya.
(hlz/hlz)


Komentar