Selasa, 24 September 2019 | 00:23 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 24 April 2019 09:02

Modernisasi Pelabuhan Kijang Tarik Minat Pelayaran Nasional

Aidikar M. Saidi

BINTAN -

Sejumlah perusahaan pelayaran nasional mengincar rute angkutan peti kemas Pelabuhan Kijang, setelah fasilitas pelabuhan terbesar di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, itu dimodernisasi.

General Manager PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Cabang Tanjung Pinang Arif Indra Perdana mengungkapkan, kini sudah lima perusahaan pelayaran yang membuka rute ke Pelabuhan Kijang.

Kelima perusahaan itu, yakni PT Pelayaran Sindo Damai (ekspor/impor) Singapura-Kijang mengangkut barang impor isotank (cairan kimia) dan bahan pabrik sekitar 5-10 box saja. Adapun angkutan ekspor semuanya karet dari pabrik di Pulau Bintan.

PT Pelayaran Meratus Lines rute Kijang-Tanjung Priok membawa kebutuhan sandang dan pangan rata-rata bongkaran 100-130 box, serta membawa daging ayam beku melalui container reefer sekitar 5 box.

Aapun barang keluar dari Kijang ke Tanjung Priok yaitu besi tua, karton bekas, biji plastik dan barang pindahan, dengan muatan penuhnya sekitar 10-15 box. Selebihnya adalah muatan kosong (container empty).

Sementara itu, PT Pelayaran Aleksindo (Sunda Kelapa-Kijang) membawa barang konsumsi dan muatan barang bekas yang akan dijual ke Jakarta.

Selain membawa peti kemas (bongkar) rata-rata 30 box, kapal tersebut membawa general cargo (loss cargo) seperti asbes, keramik, mobil, dan alat berat/craine.

Perusahaan pelayaran lainnya, yakni PT Pelayaran Bintan Megah Abadi melayani Sunda Kelapa-Kijang dengan angkutan yang sama dengan Aleksindo.

Adapun PT Pelni biasanya membawa kontainer dari Surabaya/Tanjung Priok sekitar 3-5 box per kapal, antara lain berisi garmen ataupun tekstil/pakaian dan kontainer kosong.

Selanjutnya, Pelayaran Sindo damai melayani 2-3 call per bulan, Meratus 4 call, PT Aleksindo 4 call, Bintan Megah Abadi 6-7 call, dan Pelni 2 call.

"Kegiatan peti kemas sebenarnya sudah dimulai sejak 2008 untuk ekspor tetapi dengan kondisi konvensional," kata Khairuddin, yang didampingi Manager Bisnis Khoiruddin Lubis, kepada Translogtoday.

Pada 2014, lanjut Khairuddin, barulah dimulai pembenahan fasiitas untuk kegiatan peti kemas, penambahan luas lapangan penumpukan (container yard/CY), pengadaan alat di lapangan dan dermaga, serta pembuatan sistem CTOS.

"Direksi Pelindo I juga telah membuatkan sistem integrasi semua pelayanan kapal dan barang ke sistem IGMT (Indonesia Gateway Master Terminal)," ujarnya.

Menurut dia, hinterland di Pulau Bintan yakni kebun karet, kelapa sawit dan industri pariwisata. Kebutuhan sandang dan pangan banyak didatangkan dari luar daerah. Adapun industrinya berada di FTZ seperti kawasan industri Lobam.

Pelindo I Cabang Tanjung Pinang mengelola empat pelabuhan, yakni Pelabuhan Sri Bintan Pura, Sri Payung Batu 6, Kijang, dan pemanduan kapal di Tanjung Uban.

Kegiatan Terminal Penumpang dengan rute ke pulau-pulau di Kepulauan Riau (Lingga, Dabo, Karimun, Natuna, Anambas), ferry cepat ke Batam, dan Dumai.

Pelabuhan Sri Bintan Pura juga kini menjadi Pilot Project untuk kegiatan Smart Terminal dengan penggunaan e-Berthing, e-Pass, dan dalam waktu dekat akan menerapakan e-Ticketing dan e-Parking.

Smart Terminal ini sekaligus mendukung program Gerbang Non Tunai dari pemerintah. Semuanya memakai kartu, seperti e-Money, tap cash, dan sebagainya.

Untuk Pelabuhan Sri Payung Batu 6 Tanjung Pinang umumnya melayani kapal-kapal kargo secara konvensional, antara lain dari Sunda Kelapa, Tanjung Balai Asahan, Batam, Selat Panjang dan Dumai.

Sementara itu, Pelabuhan Kijang fokus untuk pelayanan peti kemas, cargo konvensional, curah cair (CPO), dan terminal penumpang. Kegiatan lain adalah pelayanan pemanduan kapal Pertamina di Tanjung Uban.

Berdasarkan data throughput peti kemas selama 2017 tercatat sebanyak 15.717 TEUs dan naik lebih dari 25% menjadi 20.337 TEUs pada 2018. (hlz/hlz)


Komentar