Senin, 22 Juli 2019 | 16:49 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Kamis, 16 Mei 2019 18:51

Pelindo III Lihat Potensi Market Place Kepelabuhanan

Translog Today
FGD Pelindo III besama Pelabuhan Rotterdam

SURABAYA - PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menjajaki potensi untuk menjadi market place kepelabuhanan sejalan dengan komitmen BUMN ini mengimplementasikan digitalisasi layanan.

Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Toto Nugroho mengungkapkan, Pelindo III sudah mengembangkan berbagai aplikasi operasional sejalan dengan tren digitalisasi pelabuhan.

Aplikasi itu di antaranya Spinner (layanan bongkar muat peti kemas) dan Gen-C (layanan bongkar muat general cargo), TOS (operasional terminal), Vasa (pelayanan kapal), dan Anjungan (pelayanan tagihan).

Aplikasi tersebut didorong untuk terintegrasi dengan sistem eksternal, seperti Inaportnet (sistem informasi kepelabuhanan) milik pemerintah.

"Pelindo III berkomitmen penuh mendorong digitalisasi pelabuhan, termasuk melihat potensi untuk menjadi market place," ungkap Toto dalam focus group discussion (FGD) tentang tren digitalisasi pelabuhan dengan mengundang pengelola Pelabuhan Rotterdam Belanda, di Kantor Pusat Pelindo III, Surabaya, Kamis (16/5).

Dalam diskusi tersebut, Toto menekankan pentingnya peran pelabuhan dalam mendorong integrasi, tidak hanya antarproses bisnis di pelabuhan tetapi juga hingga jaringan rantai pasok.

"Tujuan utamanya ialah untuk mereduksi biaya logistik. Integrasi data, sebagai bagian dari integrasi teknologi, akan sangat penting untuk meningkatkan kinerja rantai pasok," ujarnya.

Menurut dia, inovasi TI harus bisa membantu proses bisnis, tidak semata digitalisasi data. Setelah implementasi TI menjadi solusi, berikutnya adalah mendorong integrasinya.

"Oleh karena itu, arsitektur TI yang dibangun harus tepat agar jika ada perubahan tetap efisien proses perubahannya," ungkap Toto.

Aspek SDM

Senior Manager Perencanaan Strategis dan Kinerja Perusahaan Pelindo III Prasetyo menambahkan, digitalisasi memang penting untuk meningkatkan produktivitas dan layanan. Namun digital hanyalah tools (alat), sebab aspek terpentingnya tetap pada sumber daya manusia.

"Misalnya dengan digitalisasi data kegiatan di pelabuhan, pengguna jasa bisa terbantu untuk mengatur strategi yang lebih efisien dan mengembangkan strategi bisnisnya.

Dia mengatakan manusia tetap merupakan pusat dari bisnis, dengan bantuan teknologi untuk mengurus beberapa hal, manusia bisa lebih fokus untuk mengembangkan layanan yang lebih personal lagi untuk setiap pengguna jasa yang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Hal senada disampaikan oleh Presiden Direktur PT Pelabuhan Rotterdam Indonesia, Willem Deden. Dia mengatakan teknologi bukan alat pengambil keputusan, melainkan hanya berfungsi sebagai sistem atau data pembantu pengambil keputusan.

Menurut Willem, pada akhirnya hierarki institusi lah yang bisa mengambil keputusan dan memutuskan solusi untuk komunitas yang kompleks seperti di pelabuhan.

"Pelabuhan Rotterdam tidak bisa memaksa institusi lain untuk menggunakan inovasi teknologi yang dibuat. Misalnya pada inovasi Pronto untuk optimasi layanan pelabuhan," tuturnya.

Karena itu, yang dilakukan Pelabuhan Rotterdam ialah memulai dengan mengajak beberapa perusahaan yang mau mencoba, karena efisiensi yang didapat lebih banyak dirasakan oleh pelayaran (bukan pelabuhan).

"Kami menggelar banyak diskusi lintas institusi, dari syahbandar hingga pengguna jasa. Ternyata inovasi layanan juga menjadi daya tarik pelabuhan dalam pemasaran," paparnya.

Tantangan

Digital Expert Pelabuhan Rotterdam Monica Swanson, dalam presentasinya mengungkapkan, bila perusahaan memiliki orang yang tepat untuk mengelola sistem TI dan bila TI bisa menyatukan karyawan milenial dan senior untuk bekerja sama, maka digitaliasi bisa sangat menguntungkan.

"Tantangannya ialah bagaimana membuat komunitas maritim lintas institusi di pelabuhan dan pelayaran (atau bahkan di sepanjang rantai pasok) untuk bersama-sama mendigitalisasi proses bisnisnya," ujarnya.

Menurut dia, konflik kepentingan yang muncul juga harus didiskusikan bersama hingga mencapai kesetimbangan take and give yang membawa ke satu tujuan, keselamatan operasional dan efisiensi bisnis.

Para peserta diskusi, baik dari karyawan Pelindo III Group maupun tamu undangan dari Telkom dan ITS Surabaya, banyak yang menanyakan bagaimana trik untuk mengumpulkan lintas institusi agar bekerja sama mengembangan sistem digitalisasi.

Salah satunya ialah dengan meminta para pemangku kepentingan yang merupakan business owner untuk mengisi sendiri data mereka yang perlu di-sharing ke modul-modul yang disiapkan. Hal tersebut membuat mereka lebih nyaman dan mengikis isu kepercayaan.

Adapun untuk resistensi yang mungkin timbul, misalnya dari para agen yang khawatir kehilangan pekerjaannya akibat adanya otomasi. Mereka diajak untuk aktif mengembangkan aplikasi digital dan sistem TI sehingga dapat mengikuti untuk mengubah model bisnis mereka agar tetap relevan.

Monica mengatakan apabila dalam 2-3 tahun ke depan pelabuhan tidak mengadaptasi digitalisasi, maka akan tertinggal. Sebab digitalisasi akan menjadi kebutuhan yang dicari para pengguna jasa dan sangat berpotensi mereduksi biaya-biaya yang tak perlu dalam bisnis.

"Mengembangkan TI dengan tujuan bersama akan menjadi win-win solution. Kesulitan teknis akan diatasi bersama. Jutaan dolar dari kegiatan yang tidak efisien bisa dibereskan. Kita sebagai operator pelabuhan akan menjadi partner logistik yang lebih baik. Itu tujuannya," pungkas Monica. (hlz/hlz)


Komentar