Sabtu, 24 Agustus 2019 | 09:27 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Jumat, 17 Mei 2019 10:10

IPC: Trilogi Maritim Pangkas Biaya Logistik Nasional 4,9% Hingga 2022

Translog Today
(IPC)

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC meyakini implementasi Trilogi Maritim atau jaringan pelabuhan yang terintegrasi (integrated port network) akan menurunkan biaya logistik nasional.

Direktur Utama Pelindo II/IPC Elvyn G. Masassya mengatakan, konsep Trilogi Maritim itu sejalan dengan rencana pemerintah untuk menurunkan biaya logistik sebesar 4,9% dalam 3 tahun ke depan.

Menurut dia, ada beberapa tantangan untuk menurunkan biaya logistik nasional, yakni belum optimalnya jaringan pelayaran, belum adanya standarisasi pelabuhan, serta masih tingginya inefisiensi transportasi darat. Dengan Trilogi Maritim, hambatan-hambatan itu bisa ditekan.

"Tahun 2018, biaya logistik nasional sebesar 23,6% dari total produk domestik bruto. Kami yakin dengan Trilogi Maritim biaya logistik turun menjadi 18,7% pada tahun 2022," katanya saat acara buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Kamis (16/5).

Konsep Trilogi Maritim mencakup tiga pilar, yaitu standarisasi pelabuhan, aliansi pelayaran, dan industri yang terakses baik dengan pelabuhan. Dalam hal standarisasi pelabuhan, perlu ada kualitas standar, baik fisik maupun teknologi yang digunakan.

"Sejak 2016 kami melakukan standarisasi pelabuhan dengan menitikberatkan pengembangan fisik serta digitalisasi, sehingga layanan dan operasional lebih cepat dan mudah. IPC terus melakukan transformasi untuk menjadi trade facilitator," ujarnya.

Elvyn juga menegaskan Pelabuhan Tanjung Priok siap menjadi pelabuhan hub terbesar di Asia Tenggara.

"IPC telah membuka layanan pelayaran langsung (direct call) ke Amerika, Eropa, Australia dan Intra Asia. IPC terus mengembangkan layanan direct call dari Tanjung Priok, dan yang terbaru adalah melalui penguatan kerja sama dengan Pelabuhan Ningbo, China, akhir April lalu."

Dengan layanan direct call, ekspor atau impor tak perlu lagi mampir ke Singapura. "Tanpa transhipment di Singapura, biaya jasa kepelabuhanan dan jasa tambang (freight cost) terpangkas hingga 40%," ungkapnya.

Kinerja IPC

Pada kesempatan itu, Elvyn memaparkan capaian IPC selama kuartal I 2019. Dia menjelaskan, pada kuartal I laba bersih tercatat Rp757,9 miliar atau naik 50,8% dibandingkan kuartal I 2018 sebesar Rp500 miliar. Pendapatan usaha juga naik 5,53% dari Rp2,6 triliun menjadi Rp2,74 triliun.

Meski demikian, lanjut Elvyn, EBITDA turun 0,9% dari Rp1,09 triliun menjadi Rp1,08 triliun. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga mengalami sedikit kenaikan, yakni dari 65,58% menjadi 67,48%.

Adapun arus (throughput) peti kemas kuartal I 2019 tercatat 1,83 juta TEUs. Angka ini sama dengan kuartal I 2018. Untuk arus non peti kemas, IPC mencatat kenaikan sebesar 5,53% dari 13,36 juta ton menjadi 14,10 juta ton.

Mudik Lebaran 2018

Mengenai kesiapan arus mudik Lebaran 2019, Elvyn memastikan bahwa semua pelabuhan yang dikelola IPC siap menyambut kedatangan dan keberangkatan para pemudik.

Khusus di Pelabuhan Tanjung Priok, IPC memberikan fasilitas mudik gratis untuk 2.000 pemudik tujuan Batam dan Surabaya dengan kapal laut.

"Selain itu, kami memfasilitasi sekitar 22.000 pemudik tujuan Jawa dan Sumatera. IPC menyiapkan 406 bus berstandar pariwisata dengan tujuan beberapa kota utama di Jawa dan Sumatera," jelasnya.

Mudik gratis bersama IPC Grup 2019 juga memberikan layanan angkutan balik bagi pemudik yang hendak kembali ke Jakarta setelah berlebaran. (hlz/hlz)


Komentar