Selasa, 24 September 2019 | 00:39 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 12 Juni 2019 21:31

IPC TPK Gandeng Temas dan Icon Lines Tambah Kapasitas TPK Pelabuhan Dwikora

Aidikar M. Saidi

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC menggandeng dua perusahaan pelayaran nasional, yakni PT Tempuran Emas Tbk dan PT Indo Container Lines, untuk menambah kapasitas Terminal Peti Kemas Pelabuhan Dwikora, Pontianak.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) telah dilakukan antara PT IPC TPK, anak perusahaan Pelindo II, dan Tempuran Emas (Temas) pada Mei 2019.

"Kini tinggal MoU dengan Indo Container (Icon) Lines yang belum ditandatangani," kata Muhammad Aji, Direktur Utama PT IPC TPK, kepada Translogtoday, pekan lalu.

MoU tersebut ditandatangani oleh Muhammad Aji dan Dirut PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk Sutikno Khusumo. Adapun MoU dengan Icon Lines rencananya ditandatangani oleh Benny Chia selaku Dirut Indo Container Lines. 

Di tempat terpisah, Sutikno mengatakan pihaknya siap bekerja sama dengan Pelindo II untuk membangun tambahan kapasitas terminal peti kemas terbesar di Pontianak, Kalimantan Barat.

Pelabuhan Dwikora saat ini membutuhkan tambahan lahan seluas 5 hektare untuk meningkatkan kapasitas terminal peti kemas.

"Lahan yang ada seluas 5 hektare sudah tidak mampu lagi menampung arus peti kemas dan arus kapal untuk masuk ke Pontianak," ujar Adi Sugiri, General Manager Pelindo II Cabang Pontianak.

Dia mengungkapkan, ada wacana dari Pemkot Pontianak dan Pangdam untuk memberikan lahan seluas 5 hektare di lokasi samping terminal peti kemas. Sehingga nanti seluruhnya mencapai 10 hektare dan dapat meningkatkan kapasitas menjadi dua kali lebih besar.

Menurut Adi, saat ini Pelabuhan Pontianak hanya menguasai 5 hektare lahan dan itu sudah kapasitas penuh sehingga membutuhkan tambahan lahan.

Penambahan lahan tersebut, tutur Adi, sudah sangat mendesak mengingat kapasitas tampung terminal peti kemas sudah hampir penuh.

Hal senada diungkapkan Manager Area TPK Pelabuhan Pontianak Hendri Purnomo. Dia mengatakan saat ini kontrak windows dengan delapan perusahaan pelayaran di TPK Pelabuhan Pontianak sudah penuh untuk 2019.

"Windows sudah penuh, sehingga tidak bisa lagi menambah kapal peti kemas reguler masuk ke Pontianak," ujarnya.

Delapan perusahaan pelayaran itu adalah PT Tanto Intim Line, PT Tempuran Emas Tbk, PT Prima Nur Panurjwan, PT SPIL, PT Spedak Utama Sipindo, PT Lintas Kumala Abadi, PT Meratus Lines, dan PT Samudra Intan.

Dia mengungkapkan, lima perusahaan pelayaran sebagai kontribusi terbesar pada 2018 adalah PT Tanto Intim Lines (81.019 TEUs), menyusul PT Tempuran Emas Tbk. (71.558 TEUs), PT Salam Pasific Indonesia Lines (57.748 TEUs), PT Pelayaran Panurjwan (25.483 TEUs) dan PT Sepedak Utama Sipindo (17.770 TEUs).

Sejak Januari 2019, paparnya, kinerja operasional sudah mencapai 47 BSH (Box/Ship/Hour) atau hampir dua kali lipat lebih tinggi dari standar Ditjen Perhubungan Laut yang ditetapkan 24 BSH.

Adi mengatakan bahwa sejak dipisahkan antara kegiatan bongkar muat di terminal peti kemas dengan kegiatan stuffing dan stripping di terminal konvensional, maka produktivitas meningkat.

"Sejak ada pemisahan tersebut produktivitas bongkar meningkat sehingga Yard Occupancy Ratio (YOR) turun di bawah 50%," tuturnya.

Berdasarkan data total throughput selama 2018 sudah mencapai 277.887 TEUs, meningkat dibandingkan dengan 2017 yang hanya 244.485 TEUs. Adapun kapasitas handling peti kemas di Pelabuhan Pontianak hanya mampu melayani 313.754 TEUs/tahun.

Meskipun selama 2018 ekspor turun menjadi 18.903 TEUs dari sebelumnya 2017 pernah mencapai 24.792 TEUs.

Transhipmentke Jakarta juga turun dari 15.845 TEUs pada 2017, menjadi 10.804 TEUs 2018. Namun transhipmentke Singapura stabil yakni 8.917 TEUs pada 2017 dan 8.099 TEUs pada 2018. (hlz/hlz)


Komentar