Jumat, 19 Juli 2019 | 06:19 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Kamis, 20 Juni 2019 12:16

Pelindo III Sediakan Fasilitas Shore Connection di Terminal Dwimatama, Tanjung Emas

Ayu Puji

SEMARANG -

PT Lamong Energi Indonesia, cucu perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dari PT Terminal Teluk Lamong, menyediakan fasilitas pasokan listrik dari darat untuk kapal (shore connection) di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Fasilitas shore connection dengan daya listrik 1 mega watt kini telah tersedia di Terminal Dwimatama, Pelabuhan Tanjung Emas, yang dioperasikan khusus untuk melayani PT Pupuk Indonesia Logistic (Pilog).

Sebelumnya, Lamong Energi sudah menyediakan layanan tersebut di lingkungan Pelindo III, yakni Berlian Jasa Terminal Indonesia Port (BJTI Port) dan Terminal Teluk Lamong (TTL) Surabaya, serta Pelabuhan Benoa Bali.

"Selama ini kapal yang sandar mesinnya harus tetap menyala untuk memenuhi kebutuhan listrik, tapi dengan shore connection itu tidak perlu lagi sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan" kata Direktur Utama Pelindo III Doso Agung, Kamis (20/6/2019).

Menurut dia, shore connection memberikan efisiensi biaya operasional bongkar muat curah kering hingga 40% sekaligus mempercepat kegiatan bongkar muat yang semula 4-5 hari menjadi 3-4 hari.

"Penggunaan listrik pada kapal tanpa solar akan menghemat 40% biaya serta mempercepat bongkar muat karena listrik yang kami sediakan dapat mengoperasikan ship crane secara maksimal," jelasnya.

Dengan menggunakan shore connection, ungkap Doso, produksi bongkar muat curah kering meningkat dari 1.800 - 2.000 ton/hari menjadi 2.300-2.500 ton/hari. Peningkatan terjadi karena energi listrik memudahkan penggunaan ship crane secara maksimal dan efisien.

"Semula kapal dengan kapasitas 7.500 GT hanya dapat menggunakan 1 ship crane karena solar mahal, tetapi dengan shore connection kapal dapat menggunakan 2 ship crane dengan biaya lebih efisien", jelas Doso.

Pelayanan curah kering di Terminal Dwimatama Pelabuhan Tanjung Emas dilengkapi dengan fasilitas conveyor berukuran 1,2 x 25 meter dan berkapasitas 200 ton/jam.

"Pelindo III akan terus meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan kapal melalui penyediaan fasilitas dan peralatan canggih dan ramah lingkungan. Usaha ini untuk memberikan kontribusi dan menekan biaya logistik di Indonesia," kata Doso.

Kapal yang akan dilayani menggunakan shore connection merupakan hasil sinergi BUMN antara Pelindo III dan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri), di antaranya MV Pusri Indonesia. Kapal curah kering bermuatan 7.497 ton pupuk ini membutuhkan daya sampai dengan 900 kw untuk memenuhi kebutuhan listrik kapal dalam melakukan bongkar muat.

Capt. Ronald C. Schouten, Kepala Cabang PT Temas Line Surabaya-salah satu pelanggan shore connection mengungkapkan pihaknya sudah merasakan efisiensi biaya dari shore connection untuk listrik kapal peti kemasnya yang sandar di wilayah Pelindo III, khususnya di Terminal Berlian dan TTL.

"Pada saat sandar, kapal kami dapat mengurangi konsumsi BBM dengan menggunakan listrik dari darat untuk beroperasi, yang mana tarif penggunaan listriknya lebih murah dan stok BBM juga menjadi lebih lama," ujarnya.

Menurut Capt. Ronald, fasilitas itu juga membantu mengurangi polusi udara dan suara di wilayah pelabuhan, selain dapat memanfaatkan waktu sandar kapal untuk melakukan maintenance karena biasanya mesin kapal tidak pernah berhenti beroperasi.

"Sebagai perusahaan pelayaran, banyak manfaat dari terobosan ini yang dapat kami rasakan. Harapan kami fasilitas shore connection ini dapat dikembangkan ke seluruh pelabuhan di Indonesia," ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh M. Sahurrullah, Manager Pemeliharaan PT Pupuk Indonesia Logistik. Dia mengatakan shore connection memberikan efisiensi karena ketergantungan terhadap BBM untuk operasi saat kapal sandar dapat digantikan dengan listrik dari darat. "Dengan adanya fasilitas ini, kami dapat mengurangi cost," ujarnya.

Fasilitas shore connection di lingkungan Pelindo III dikembangkan sejak 2018 di BJTI Port untuk melayani kapal peti kemas, kemudian di Pelabuhan Benoa untuk kapal yacht, dan di TTL untuk kapal peti kemas. Fasilitas ini juga akan dibangun di Terminal Nilam Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.

"Di Pelindo III kami terus berinovasi, dan fasilitas tersebut merupakan yang pertama di Indonesia. Kami akan terus kembangkan secara bertahap di semua lingkungan Pelindo III dan tidak menutup kemungkinan dipasang di seluruh pelabuhan di Indonesia," ungkap Doso. (hlz/hlz)


Komentar