Minggu, 21 Juli 2019 | 10:04 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Rabu, 26 Juni 2019 20:31

Pelindo III dan PGN Bangun Terminal LNG di Teluk Lamong

Translog Today

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak perusahaan masing-masing bersinergi membangun terminal LNG (liquified natural gas) di Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Sinergi antara Pelindo III dan PGN tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Pelindo III Group dan Pertamina Group--sebagai induk perusahaan PGN, beberapa waktu lalu untuk mengeksplorasi kerja sama di sektor logistik energi.

Perjanjian tentang sinergi pembangunan, pengoperasian, dan pengelolaan fasilitas tersebut ditandatangani oleh Direktur Utama Pelindo III Doso Agung dan Dirut PGN Gigih Prakoso, disaksikan oleh Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

"Ini merupakan terobosan.Dengan sinergi ini diharapkan ada availabilitas dan reliabilitas atas pasokan energi hingga ke timur Indonesia, sehingga nantinya menuju kondisi pasokan gas yang sustain. Kerja sama ini tidak hanya baik untuk BUMN, tetapi juga untuk semua karena lebih ramah lingkungan," kata Edwin Hidayat.
.
Dia mengatakan Terminal LNG menjadi langkah sinergi BUMN untuk menopang kebutuhan gas di Jawa Timur, karena bisa memasok hingga 30 MMSCFD. Fasilitas ini akan meningkatkan reliability dan sustainability pasokan gas ke para pelanggan seperti industri, ritel, dan kelistrikan," kata Doso.

Menurut dia, berdasarkan proyeksi kebutuhan pasokan gas yang tinggi berada di Jawa Timur. Untuk itu, Pelindo III sebagai pengelola Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menyiapkan Terminal Teluk Lamong dan lini bisnis logistik energinya, PT PE Logistik, untuk membangun fasilitas terminal LNG.

Terminal Teluk Lamong akan menjadi gerbang masuk distribusi gas PGN untuk pasar Jawa Timur mengingat lokasi Pelabuhan Tanjung Perak yang strategis.

"Pasokan LNG yang semakin lancar akan menekan biaya logistik. Diharapkan juga ada dampak ikutan berupa peningkatan daya saing industri di Jawa Timur, karena kepastian pasokan yang membuat penghematan biaya belanja energi dan peningkatan produksi," ungkapnya.

Doso Agung mengungkapkan, keandalan penyediaan bahan bakar gas oleh Pemerintah melalui BUMN akan meningkatkan kepercayaan para pelanggan, sehingga akan mengakselerasi program konversi bahan bakar domestik dari minyak bumi ke gas bumi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso menambahkan, anak usaha PGN yakni PT PGN LNG Indonesia (PLI) akan bekerja sama dengan PT Pelindo Energi Logistik (PEL) selaku lini usaha Pelindo III di bisnis logistik energi, untuk menggarap tiga fase pembangunan.

"Dalam skema distribusi dan transmisi gas, pasokan LNG dapat dikapalkan dari sumur di Bontang/Tangguh. Bahkan LNG impor, apabila pasokan LNG domestik tidak mampu lagi memasok kebutuhan LNG untuk domestik," ujarnya.

Gigih melanjutkan, LNG kemudian ditampung di terminal LNG yang mempunyai fasilitas storage sementara dan di-breakbulk dengan filling unit untuk penjualan ritel. Dengan begitu, LNG bisa langsung mengalir ke konsumen melalui jaringan pipa. Selain itu, LNG dimungkinkan untuk didistribusikan melalui truk ke konsumen ritel.

Pada fase pertama, ungkapnya, pembangunan akan fokus pada fasilitas regasifikasi di kawasan lepas pantai dan menggunakan storage sementara, dengan utilisasi kapal LNG ukuran sedang yang sesuai ukuran jetty (dermaga) eksisting di Terminal Teluk Lamong.

"Perpipaan dari jetty menuju on-shore regasification unit akan sangat efisien karena bisa ditempatkan di atas pilecap conveyor yang sudah ada untuk melayani bongkar curah kering di Terminal Teluk Lamong. Adapun luasan area yang disiapkan Pelindo III untuk fasilitas regasifikasi mencapai 2,5 hektar, sehingga sangat memadai," paparnya.

Fase kedua yaitu pembangunan terminal pengisian LNG skala kecil (Iso Tank 20 feet - 40 feet container) untuk distribusi LNG di luar sistem pipa PGN dan ship to truck LNG bunkering.

Fase paling akhir mencakup pembangunan tangki LNG permanen, yang akan dimulai dengan ukuran 50.000 cbm sebagai pengganti floating storage untuk memenuhi kebutuhan suplai gas sistem pipa PGN di Jawa Timur. Fasilitas itu dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan sampai dengan 180 MMSCFD.

Terminal LNG tersebut ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2023, dan dapat berkembang untuk memenuhi semua kebutuhan gas di Jawa Timur sebesar 600 MMSCFD dalam jangka panjang.

Gigih mengungkapkan pembangunan permanen yang bertahap ini akan mengurangi biaya Capex dan Opex secara signifikan bila dibandingkan dengan fase-fase awal sebagai solusi sementara.

"Sebab adanya pengurangan Opex dari hilangnya pembiayaan sewa harian FSU dan berkurangnya biaya marine operation. Untuk Capex sendiri akan berkurang signifikan karena menggunakan terminal eksisting. Salah satu biaya terbesar dalam pembangunan small scale LNG terminal adalah pembangunan jetty dan fasilitas pelabuhan," jelasnya. (hlz/hlz)


Komentar