Kamis, 19 September 2019 | 02:59 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Galangan Kapal
Kamis, 18 Juli 2019 06:43

Kampuh Welding Indonesia: Pasok Welder Terampil hingga Mancanegara

Ayu Puji
Moch. Moenir (Translogtoday)

SURABAYA -

Setiap tahun, Indonesia membutuhkan ratusan ribu tenaga pengelasan (welder) untuk bekerja di berbagai sektor industri. Namun, pasokan tenaga kerja di bidang ini masih terbatas, terutama yang memiliki kualifikasi industri dan sertifikasi internasional.

Kondisi ini membuat industri sering kesulitan, terutama galangan kapal yang butuh welder profesional dalam jumlah besar. Ketika program Tol Laut digulirkan pada 2014, misalnya, galangan sempat ‘pusing' karena kekurangan welder. Akibatnya, antar galangan terpaksa saling tarik pekerjanya.

Selama ini, kebutuhan welder dipenuhi oleh lembaga pendidikan dan pelatihan milik pemerintah dan swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, tidak semua lulusannya diserap industri karena belum memenuhi kualifikasi dan bersertifikasi.

Masalah ini menjadi perhatian Moch. Moenir, praktisi industri perkapalan yang berpengalaman bekerja lebih dari 25 tahun di PT PAL Indonesia (Persero). Setelah pensiun dari BUMN itu pada 2007, Moenir bukannya beristirahat. Dia justru makin terpacu melanjutkan misinya mencetak tenaga kerja terampil di industri perkapalan.

Saat menjadi direksi PAL, dia ikut merintis kerja sama dengan Mitsui Engineering & Shipbuilding untuk memagangkan seluruh pekerja PAL di galangan kapal Jepang itu, seperti welder, painter, machinery dan lainnya.

Selama periode 2000-2007, PAL mengirim 700 pekerjanya ke Mitsui untuk kerja magang selama 1-3 tahun. Program ini berhasil meningkatkan keterampilan dan produktivitas pekerja PAL cukup signifikan.

Setelah Moenir pensiun, program itu sempat terhenti karena semua pekerja PAL sudah pernah dikirim ke Jepang, padahal Mitsui masih butuh. Dia lalu mendirikan perusahaan yang merekrut pekerja dari galangan lokal untuk kerja magang di Jepang.

"Saya pikir ini jalan yang baik guna meningkatkan skill dan perekonomian pekerja kita, apalagi kebutuhan welder di Jepang cukup besar," ujarnya.

Baru berjalan beberapa tahun, permintaan welder tiba-tiba melejit setelah Presiden Joko Widodo meluncurkan program Tol Laut pada 2014.

"Saat itu galangan kekurangan tenaga pengelasan karena tidak dipersiapkan. Ada tenaga pengelasan dari sekolah kejuruan tapi outputnya kurang, mereka juga sudah terserap ke industri besar. Saya carikan untuk magang ke Jepang tidak ada," kenangnya.

Dirikan KWI

Dari situ, muncul ide di kepala Moenir untuk membuka sekolah pengelasan. Dengan berbekal modal semampunya, dia membeli lahan murah di pinggiran kota Surabaya dan mulai mewujudkan mimpinya itu pada 2014.

Akhirnya berdirilah lembaga pendidikan dan pelatihan kerja khusus teknologi las bernama Kampuh Welding Indonesia (KWI) di daerah Sambikerep, Surabaya.

Sejak KWI berdiri, jumlah siswanya terus meningkat dan sebagian besar lulusannya berhasil bekerja di berbagai industri.

Pada 2015, siswa KWI berjumlah 110 orang, kemudian bertambah menjadi 300 orang pada 2016, lalu 700 orang pada 2017, dan 1.000 orang pada 2018. Pada 2019, jumlah siswa KWI ditargetkan 2.000 orang, yakni 1.200 orang di Surabaya dan 800 orang di Cikarang.

Upaya Moenir merintis KWI tidak selalu berjalan mulus. Pada awal berdiri, dia sempat kesulitan merekrut calon siswa karena biaya pelatihan dianggap mahal yakni sekitar Rp30 juta per orang hingga peserta lulus dan mengantongi sertifikat.

kwi

"Tidak ada yang sanggup bayar, saya kurangi sampai Rp7 juta pun tidak ada yang sanggup. Akhirnya saya ajak teman-teman dari galangan dan subkontraktor untuk melatih pekerjanya di sini. Mereka setuju bahkan ikut bantu sebab pengelasan penting dalam pembangunan kapal yang menuntut standar tinggi," ujarnya.

Setelah berjalan 2 angkatan, setiap angkatan 6 minggu, KWI mendapat bantuan dari Kementerian Perindustrian. Bagi Kemenperin, tenaga welder yang dihasilkan KWI sangat penting untuk mendukung program Tol Laut.

"Bantuan Kemenperin sangat berarti. Sebagian biaya, seperti untuk seragam, makan, plat baja, dan instruktur, ditanggung Kemenperin. Adapun fasilitas, gaji, administrasi, perawatan mesin dan lain-lain kami usahakan sendiri," paparnya.

Siswa hanya dipungut biaya Rp2 juta untuk 6 minggu pendidikan, itu pun tidak mutlak. Bagi siswa yang tidak mampu bisa mendapatkan beasiswa dari KWI. Untuk panduan belajar, siswa dibekali buku yang diterbitkan oleh KWI. Buku itu berasal dari e-Book Diknas tentang pengelasan kapal.

Selain memberikan pendidikan dan pelatihan, KWI juga melaksanakan hampir semua sertifikasi bekerja sama dengan Biro Klasifikasi Indonesia (Class BKI) dan anggota International Association of Classification Societies (IACS), antara lain Lloyd Register (Class LR) Inggris, Nippon Kaiji Kyoukai (Class NK) Jepang.

KWI juga melakukan tes untuk International Institute of Welding, serta sudah diakreditasi oleh Malaysia yang mengharuskan semua pekerjaan pengelasan memiliki sertifikat.

Selain Mitsui E&S, ungkap Moenir, banyak galangan kapal Jepang yang meminta tenaga kerja magang dari KWI, di antaranya Tsuneishi Shipyard, Oshima Shipbuilding, dan Kitanihon Shipyard.

Selama ini, perusahaan Jepang banyak menggunakan pekerja dari China, Vietnam, atau Filipina. Namun, upah di China meningkat beberapa tahun terakhir sehingga bekerja di Jepang menjadi kurang menarik lagi.

Selain welder dari China, Vietnam dan Filipina cukup tersedia, orang Jepang juga ragu mengganti pekerja dari negara-negara itu. Mereka khawatir orang Indonesia yang mayoritas muslim kurang produktif sebab harus berpuasa dan salat lima kali sehari.

Padahal berdasarkan pengalaman PAL dan KWI dengan Mitsui selama ini tidak pernah ada masalah itu. Untuk menghilangkan kekhawatiran itu, dia menganjurkan agar pemeritah dan Kedubes RI mengedukasi industri Jepang bahwa pekerja Indonesia juga punya potensi dan produktif.

Kekurangan Welder

Meskipun galangan kapal sedang lesu dan mengurangi pekerjanya, tenaga welder masih banyak diperlukan oleh industri lain. Moenir memperkirakan Indonesia membutuhkan ratusan ribu tenaga welder setiap tahun.

"Tapi kami hanya menghasilkan 1.000 welder per tahun, padahal kebutuhannya besar. Kita sangat kekurangan tenaga pengelasan," ungkapnya.

kwi

Untuk menghasilkan lebih banyak welder profesional, Moenir menawarkan pihak lain untuk bekerja sama ataupun mencontoh pengalaman KWI.

Sebagai contoh, Djarum Foundation meminta KWI menjadi penasihat perencanaan program pendidikan pengelasan di Kudus. Yayasan itu juga mensponsori penyempurnaan buku panduan pengelasan yang diterbitkan KWI.

"Saya mengajak daerah-daerah lain untuk mengembangkan tempat pelatihan seperti KWI. Saya bersedia membantu, mendidik instruktur, pakai buku dari sini. Kerja sama apapun agar bisa mencetak welder lebih banyak lagi," ungkap Moenir.

Pelatihan juga siap diberikan untuk guru SMK, seperti yang sudah dilakukan KWI sejak 2015. Guru SMK dari seluruh Indonesia diundang mengikuti pelatihan gratis selama 20 hari. Bersyukur, Kemenperin membantu biaya pelatihan guru SMK itu mulai tahun ini.

Di usianya yang menginjak 70 tahun pada 25 Desember nanti, Moenir menganggap upaya yang dilakukannya hanyalah bagian dari ibadah. Bagi dia, ada kepuasan batin ketika melihat anak-anak dari kampung yang tadinya tidak tahu apa-apa mengenai pengelasan bisa bekerja dengan penghasilan layak setelah lulus dari KWI.

"Anak-anak itu bisa mendapatkan gaji hingga Rp10 juta per bulan. Apalagi yang dikirim ke Jepang penghasilannya lebih besar lagi. Wajah mereka berubah jadi ceria, keluarganya bangga. Saya senang bisa memberikan kesempatan kepada mereka," ungkapnya. (Buletin Iperindo Edisi 2/VII/2019) (hlz/hlz)


Komentar