Kamis, 19 September 2019 | 02:52 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Korporasi / Aksi Korporasi
Jumat, 26 Juli 2019 19:20

Bongkar Muat dan Arus Kapal Turun, Laba Bersih IPC Tetap Naik 25%

Translog Today
Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya (IPC)

JAKARTA - IPC membukukan laba bersih Rp1,51 triliun pada semester pertama 2019, tumbuh 25% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu Rp1,21 triliun.

Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya mengungkapkan, kenaikan laba bersih itu melanjutkan tren yang telah berlangsung selama 3 tahun terakhir, meskipun kondisi ekonomi penuh dengan tantangan.

"Kenaikan laba bersih ini dicapai dari efisiensi dan cost effectiveness," katanya di Jakarta, Jumat (26/7).

Meskipun laba bersih meningkat, Elvyn mengakui kinerja dan operasional perseroan secara umum tidak terlepas dari pengaruh kondisi ekonomi saat ini, yang menyebabkan ekspor dan impor menurun.

Sepanjang semester pertama 2019, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), aktivitas ekspor Indonesia turun 8,6% dan impor turun 7,6%.

Hal ini tercermin pada aktivitas bongkar muat peti kemas yang turun 1,03% dibandingkan dengan periode yang sama 2018, yakni dari 3,38 juta TEUs menjadi 3,35 juta TEUs.

Penurunan juga terjadi pada arus kapal mencapai 3,7% dibandingkan dengan 6 bulan pertama tahun lalu, dari 104,6 juta GT menjadi 100,81 juta GT.

Adapun arus barang relatif sama, yakni naik tipis 3,4% dari 27,4 juta ton menjadi 28,4 juta ton. Khusus untuk arus penumpang, terjadi kenaikan dari 317 ribu menjadi 553 ribu penumpang, atau melonjak 74%.

"Kami optimistis kinerja operasional dan keuangan kembali positif pada semester II tahun ini, seiring dengan pelaksanaan sejumlah upaya bisnis yang diproyeksikan terealisasi sesuai jadwal" ujarnya.

Saat ini, lanjut Elvyn, IPC terus mengembangkan digitalisasi untuk efisiensi operasional di lapangan.

Dalam waktu dekat IPC juga akan meluncurkan aplikasi logistik untuk memudahkan pergerakan barang mulai dari dermaga, pergudangan, hingga pendistribusiannya ke luar area pelabuhan.

Aplikasi logistik dengan platform digital ini merupakan bagian dari upaya IPC untuk menjadi trade facilitator.

"Kita ingin semua operasional di pelabuhan lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah. Tak ada lagi yang manual. Semuanya berbasis digital dan cashless," jelas Elvyn.

IPC pun terus melanjutkan Proyek Strategis Nasional sesuai penugasan dari pemerintah, termasuk mempercepat pembangunan Terminal Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini ditargetkan beroperasi mulai 2020. (hlz/hlz)


Komentar