Sabtu, 16 November 2019 | 08:11 WIB

Visit our social media :
Home / Corporation / Financing
Senin, 29 Juli 2019 09:11

IPC Klaim Sanggup Bayar Utang Global Bond dan Bunganya

Aidikar M. Saidi
Direktur Keuangan IPC Widyaka Nusapati

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC menyatakan sanggup membayar semua utang global bond senilai USD1,6 miliar dan bunga lebih Rp1 triliun per tahun.

Kesanggupan itu ditegaskan oleh Direktur Keuangan IPC Widyaka Nusapati, meskipun pendapatan BUMN kepelabuhanan itu diketahui masih belum maksimal. Pada semester pertama tahun ini perseroan telah membayar separuh utang bunga global bond tersebut.

"IPC mampu dan aman untuk membayar semua utang pokok dan bunga obligasi global bond yang saat ini sudah didepositokan di bank dalam negeri," kata Widyaka saat berbincang-bincang di ruang kerjanya, Selasa (23/7).

Menurut dia, masalah global bond tidak perlu dikhawatirkan karena sudah aman, bahkan sangat menguntungkan dalam membiayai proyek infrastruktur pelabuhan di lingkungan IPC. Jatuh tempo utang global bond itu juga masih cukup lama, sekitar 4 tahun lagi.

"Uang global bond tersisa USD480 juta terpakai untuk ekspansi sesuai dengan tujuannya, sedangkan uang IPC sejumlah Rp22 triliun cukup untuk membayar utang global bond. Lalu uang tersebut kita optimalkan dalam bentuk sebagian deposito di bank pemerintah (BNI, Mandiri, BRI) dengan target bunga setahun sekitar Rp700 miliar," paparnya.

Jadi, tutur Widyatka, ada tiga hal berbeda yaitu penggunaan global bond, kesanggupan membayar utang karena IPC mampu mengatur cashflow dengan baik dan terakhir optimalisasi cashflow menyebabkan IPC mendapat sekitar Rp700 miliar dari bunga deposito.

"Dalam 6 bulan dapat selisih bunganya saja Rp700 miliar, sehingga mampu membayar bunga global bond bahkan masih bersisa setiap tahun," ungkapnya.

Dia mengakui pendapatan IPC pada semester I/2019 belum maksimal, namun mampu membayar bunga global bond tersebut. Keuntungan perusahaan sedikit turun karena masih ada kebocoran pendapatan akibat efektivitas karyawan belum optimal karena pelabuhan masih dikelola dengan cara kurang baik.

Kontribusi keuntungan terbesar hingga saat ini berasal dari TPK Koja, NPCT1 dan JICT, sedangkan unit usaha yang lain seperti anak perusahaan dan cabang belum maksimal.

Menurut Widyaka, di jajaran karyawan IPC masih ditemukan beberapa karyawan memakai cara bekerjanya dengan pola atau tradisi lama. Meskipun sekarang sudah lebih baik, itu semua belum cukup.

Hal ini dapat dibuktikan bahwa saat ini NPCT 1 dapat menyumbang USD56 juta, TPK Koja dan JICT sebesar USD120 juta per tahun. Kondisi IPC saat ini tergolong sehat ketika pendapatan dari ketiga anak perusahaan itu apabila dijumlahkan masih sama dengan pendapatan 2018 sebesar Rp2,4 triliun.

"Jadi melihat nilai total ini, kita bertanya-tanya kemana pendapatan 12 Cabang Pelindo II dan sejumlah anak perusahaan yang lain. Melihat hal ini pasti kita diprotes, tapi yang protes ke manajemen pasti sedikit, ada yang nakal kurang 5%," ujarnya.

Dia mengatakan karyawan kategori nakal tersebut perlu diingatkan dan disadarkan. Padahal, tuturnya, kondisi core bisnis pelabuhan jika dibandingkan dengan perusahaan seperti asuransi, relatif bagus dan memiliki prospek apabila dikelola dengan baik.

Laba Bersih Naik

Berdasarkan siaran pers IPC, perseroan mencatatkan laba bersih Rp1,51 triliun pada semester I/2019, naik 25% dibandingkan dengan semester yang sama 2018 sebesar Rp1,21 triliun.

"Kami berupaya mempertahankan tren kenaikan laba bersih perusahaan yang telah berlangsung selama 3 tahun terakhir, di tengah kondisi ekonomi yang penuh dengan tantangan. Laba bersih ini dicapai dari efisiensi dan cost effectiveness," kata Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya, Jumat (26/7).

Meskipun laba bersih mengalami kenaikan, Elvyn mengakui bahwa kinerja dan operasional perusahaan secara umum tidak dapat terlepas dari pengaruh kondisi ekonomi saat ini.

Berdasarkan data BPS, sepanjang semester I/2019 aktivitas ekspor turun 8,6% dan impor turun 7,6%, tercermin pada aktivitas bongkar muat peti kemas yang mengalami penurunan 1,03% dibandingkan dengan periode yang sama 2018, yakni dari 3,38 juta TEUs menjadi 3,35 juta TEUs.

Penurunan juga terjadi pada arus kapal mencapai 3,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2018, yaitu dari 104,6 juta Gross Ton (GT) menjadi 100,81 juta GT. Sementara itu, arus barang naik tipis 3,4% dari 27,4 juta ton menjadi 28,4 juta ton.

Khusus untuk arus penumpang, terjadi kenaikan dari 317 ribu menjadi 553 ribu orang atau tumbuh 74%. "Kami optimistis kinerja operasional dan keuangan kembali positif pada semester II ini, sesuai dengan pelaksanaan sejumlah upaya bisnis yang diproyeksikan terealisasi sesuai jadwal," urainya.

Saat ini, lanjut Elvyn, IPC terus mengembangkan digitalisasi untuk efisiensi operasional di lapangan. Dalam waktu dekat IPC akan meluncurkan aplikasi logistik untuk memudahkan pergerakan barang mulai dari dermaga, pergudangan, hingga pendistribusiannya ke luar area pelabuhan.

Aplikasi logistik dengan platform digital ini merupakan bagian dari upaya IPC untuk menjadi trade facilitator. "Kami ingin semua operasional di pelabuhan lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah. Tak ada lagi yang manual, semuanya berbasis digital dan cashless," jelas Elvyn.

IPC terus melanjutkan Proyek Strategis Nasional sesuai penugasan dari Pemerintah, salah satunya mempercepat pembangunan Terminal Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat, yang direncanakan mulai beroperasi pada 2020. (hlz/hlz)


Komentar