Selasa, 22 Oktober 2019 | 21:57 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Transportasi / Pelabuhan
Selasa, 17 September 2019 07:00

Pelindo IV Siapkan Kendari New Port Jadi Pelabuhan Kelas Dunia

Aidikar M. Saidi
Kendari New Port

MAKASSAR - PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) menyiapkan Kendari New Port (KNP) menjadi terminal peti kemas modern menuju pelayanan berbasis digital port.

Pembangunan Terminal Peti Kemas (TPK) KNP yang menghabiskan hampir Rp1 triliun itu dilengkapi fasilitas berkelas dunia, dan throughput setiap tahun terus naik lebih dari 10%.

"Hingga kini sudah tujuh perusahaan pelayaran yang membuka rute angkutan peti kemas ke Pelabuhan Kendari," ungkap Debby Duakaju, General Manager Pelindo IV Cabang Kendari, kepada Translogtoday, Jumat (13/9).

Adapun operator pelayaran yang mengoperasikan kapal peti kemas ke Pelabuhan Kendari, yakni PT Meratus line, PT Samudra Raya Indo Line (sril), PT Tanto Intim Line, PT Samas, PT Mentari, PT SPIL, dan PT Tempuran Emas Line (Temas) Tbk.

Menurut Debby, setiap bulan ada 38 call (kunjungan) kapal masuk ke Pelabuhan Kendari, 13 call per bulan di antaranya dilayani di TPK KNP untuk dilakukan uji coba.

Dia mengatakan Pemprov Sulawesi Tenggara akan menyiapkan jembatan penghubung antara pelabuhan dan kawasan industri.

Pemkot Kendari juga sedang membangun jembatan Bahteramas sebagai penghubung Kota Lama dan Abeli setinggi 19 meter dari permukaan air di Teluk Kendari.

Pembangunan jembatan tersebut mengharuskan Pelindo IV untuk memindahkan kegiatan kepelabuhanan ke TPK New Port (KNP) dan Bungkutoko.

Sebelumnya kegiatan kepelabuhanan, baik bongkar muat peti kemas maupun general cargo, di Pelabuhan Kendari dioperasikan di Terminal Nusantara Kota Lama, yang tidak jauh dari lokasi jembatan Bahteramas.

Pelindo IV telah menyiapkan berbagai fasilitas KNP agar dapat meningkatkan diri menjadi pelabuhan bertaraf internasional, di antaranya pemenuhan alat bongkar muat dan dermaga sepanjang 550 meter yang akan selesai pada 2021.

Saat ini, lanjut Debby, Pelindo IV mengoperasikan dermaga sepanjang 300 meter, 1 unit Container Crane (CC), 4 unit RTG, 2 unit Reach Stacker (RS), 1 unit Forklift 7 ton dan 10 unit Head Truck.

Rencananya, pada September 2019 pelabuhan itu akan mendapat tambahan 4 unit RS, dan 1 unit CC lagi pada akhir tahun ini.

"Sebenarnya untuk ekspor, kami sudah siap dengan fasilitas. Namun komoditas yang mau diekspor belum ada," ujar Debby.

Dia mengakui, kebanyakan pelaku bisnis mengirim komoditas mereka lebih dulu antar pulau ke Pelabhuhan Tanjung Perak Surabaya, sehingga dianggap sebagai barang domestik.

Setelah tiba di Surabaya, peti kemasnya diganti sebelum kemudian diekspor. "Jadi komoditasnya tercatat sebagai barang ekspor dari Surabaya."

Debby menjelaskan, KNP memiliki container yard seluas 5 hektare, dermaga 300 meter, 2 CC, 4 RTG dan kedalaman -18 LWS, termasuk Bungkutoko akan ditopang jembatan Bahteramas sebagai akses bagi hinterland.

"Kami telah uji coba seluruh fasilitas termasuk gudang CFS, dan penerapan sistem digitalisasi seperti aplikasi Spinner dan VesP4, serta Inaportnet. Kami pun siap menerapkan sistem windows," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Debby, keberadaan Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari menjadi salah satu alasan manajemen Pelindo IV juga mempersiapkan 90 titik reefer plug-in dengan lapangan penumpukan seluas 1.360 m2.

"Fasilitas reefer di KNP untuk kegiatan muat didominasi ikan, cumi dan udang ekspor, sedangkan bongkar adalah ice cream, cokelat dan daging ayam," ujarnya.

Ke depan KNP direncanakan berdampingan dengan Kawasan Industri seluas 42 ha yang akan mengintegrasikan seluruh kegiatan. Pemkot Kendari mempersiapkan Pulau Bungkutoko sebagai kawasan industri kepelabuhanan.

Jembatan Bahteramas diyakini berdampak positif bagi pelabuhan Samudera Kendari, karena menunjang kegiatan domestik dan ekspor impor di Terminal KNP dan Bungkutoko sebagai pintu masuk komoditas dari dan ke luar Kendari dan Provinsi Sultra. (hlz/hlz)


Komentar