Minggu, 15 Desember 2019 | 15:08 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Senin, 30 September 2019 07:04

PT Pesaka Loka Kirana Ditunjuk Kelola CFS Center di Tanjung Priok

Aidikar M. Saidi

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II/IPC Cabang Tanjung Priok akhirnya menunjuk PT Pesaka Loka Kirana untuk mengelola CFS (Container Freight Station) di pelabuhan tersebut.

Fasilitas CFS yang dibuka sejak November 2017 itu tidak beroperasi karena Pelindo II sulit bersaing dengan fasilitas  sejenis yang dikelola oleh swasta di luar Pelabuhan Tanjung Priok.

General Manager PT Pelabuhan Indonesia II Cabang Tanjung Priok, Suparjo Kasnadi mengatakan pihaknya sedang menunggu izin pengoperasian fasilitas tersebut dari Bea dan Cukai.

Menurut dia, CFS Center yang berlokasi di pintu masuk Pos 9 itu sudah dilakukan survei oleh Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dan dalam proses perizinan dari Bea Cukai setempat.

"Ini dilakukan dalam rangka mengoptimalkan aset yang dinilai mubazir selamat ini," kata Suparjo kepada Translogtoday pekan lalu.

Dia menambahkan, penunjukan PT Pesaka Loka Kirana dilakukan melalui tender terbatas yang diikuti tiga perusahaan,  termasuk PT Multi Terminal Indonesia (MTI) dan PT Agung Raya.

Pelindo II selama ini dinilai tidak mampu mengoperasikan sendiri fasilitas CFS Center di Tanjung Priok, sehingga aset negara itu menjadi mubazir.

Hal tersebut sebelumnya disampaikan oleh Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Widijanto. Sejak 2017, aset negara itu terlihat kosong tanpa kegiatan.

“Menjaring pasar barang impor LCL untuk dipindahkan ke CFS Center di pelabuhan bukan pekerjaan mudah, serahkan saja ke swasta yang memang punya pasar,” kata Widijanto beberapa waktu lalu.  

Saat ini perusahaan konsolidasi lebih banyak menggunakan CFS di luar pelabuhan. Apalagi, kehadiran PLB (Pusat Logistik Berikat) bisa membuat CFS dan depo peti kemas di area pelabuhan gulung tikar.

“Fasilitas PLB yang lokasinya berdekatan dengan kawasan industri, dinilai lebih mudah dan cepat bagi kegiatan petikemas impor. Dipastikan keberadaannya akan lebih efisien,” ujarnya.

Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Massassya pernah menuturkan bahwa CFS itu ditargetkan untuk transparansi biaya peti kemas impor berstatus LCL (Less Than Container Load) yang masih dalam pengawasan Kepabeanan. (hlz/hlz)


Komentar