Senin, 16 Desember 2019 | 20:52 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Minggu, 17 November 2019 20:47

Modernisasi Alat Bongkar Muat Pelabuhan Teluk Bayur Belum Mendesak, Ini Alasan IPC

Aidikar M. Saidi

JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC menegaskan belum berencana memodernisasi peralatan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Teluk Bayur Padang dalam waktu dekat.

Pasalnya, IPC menilai pendapatan pelabuhan tersibuk di Sumatera Barat itu hingga kini masih minim, sehingga belum perlu modernisasi atau mengganti alat bongkar muat untuk melayani kapal peti kemas generasi kedua berkapasitas angkut di atas 1.000 TEUs.

Penegasan itu disampaikan oleh Direktur Teknik dan Manajemen IPC Dani Rusli menanggapi rencana perusahaan pelayaran PT Meratus Lines mengganti kapal generasi kedua agar bisa menghemat biaya logistik pada rute angkutan peti kemas Tanjung Priok (Jakarta)-Teluk Bayur (Padang).

"Alat bongkar muat peti kemas yang tetsedia ada 4 unit Jib Crane di pelabuhan tersebut mampu melayani 20 boks per jam," ujar Dani Rusi, yang didampingi Kepala Humas IPC Fajar, kepada Translogtoday pekan lalu.

Dia mengatakan untuk kapal kapasitas 1.000 TEUs, alat jenis GLC (Gantry Luffing Crane) atau crane serbaguna tersebut masih dapat digunakan meskipun jangkauan terbatas yakni 12 row.

Namun, berdasarkan informasi dari perusahaan pelayaran untuk kapal peti kemas generasi kedua membutuhkan crane dengan jangkauan 14 hingga 17 row.

Di samping itu, Dani mengungkapkan bahwa IPC dalam memantau kesiapan pengoperasian 447 unit alat produksi di pelabuhan menggunakan Equipment Remote Monitoring System (ERMS).

"Berdasarkan monitoring dari sistem itu, saat ini kesiapan alat sudah 95% untuk beroperasi sehingga bila ada alat yang mengalami kerusakan bisa segera diatasi," tuturnya.

Menurut Dani Rusli, sekarang ini tidak ada alasan produktivitas rendah di pelabuhan karena keterbatasan atau ketidakkemampuan alat bongkar muat.

Tidak Standar

Pelabuhan Teluk Bayur dinilai tidak mampu melayani kapal 1.000 TEUs karena alat bongkar muat peti kemas tidak standar. "Seharusnya terminal peti kemas seperti Teluk Bayur ini menggunakan alat standar Container Crane atau Gantry Crane," ujar seorang pengusaha pelayaran yang keberatan disebut jatidirinya.

Berdasarkan informasi yang diterima Translogtoday, Meratus Lines yang menguasai 60% pasar muatan pada rute Tanjung Priok-Teluk Bayur berencana mengganti kapal dengan mengoperasikan kapal kapasitas angkut 1.000 TEUs.

Namun rencana itu belum bisa direalisasikan karena alat bongkar muat di Pelabuhan Teluk Bayur tidak mendukung dan tidak mampu melayani kapal berkapasitas angkut sebesar itu.

Direktur Meratus Line, Budi M. Rachman ketika dikonfirmasi, mengakui memang ada wacana mengganti kapal kapasitas 1.000 TEUs.

"Penggantian kapal masih wacana dan sedang dipelajari. Tapi sepertinya crane pelabuhan tidak bisa atau tidak mampu menjangkau semua muatan dari dan ke kapal," katanya. 

Sementara itu, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Teluk Bayur Nazarwin mengatakan, sebetulnya terminal peti kemas ini belum memenuhi syarat. "Masih banyak persyaratan yang harus dilengkapi," ujarnya.

Alat yang tersedia hanya mampu melayani kapal kecil, atau hanya kapal peti kemas generasi pertama di bawah 800 TEUs, sehingga perusahaan pelayaran menghadapi kendala untuk meningatkan kapasitas angkut pada rute Tanjung Priok-Teluk Bayur.

Apabila menggunakan kapal kapasitas angkut besar bisa lebih efisien dalam pengoperasian kapal, bahkan biaya freight bisa lebih murah. (hlz/hlz)


Komentar