Jumat, 06 Desember 2019 | 23:20 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Sabtu, 23 November 2019 14:50

Andalkan Terminal Teluk Lamong dan TPS, Pelindo III Siap Genjot Ekspor Perikanan

Ayu Puji

SURABAYA - PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Group melalui Terminal Teluk Lamong (TTL) dan Terminal Petikemas Surabaya (TPS) memberangkatkan sekitar 160 petikemas komoditas perikanan untuk dikirim ke 37 negara tujuan di dunia.

Pemberangkatan petikemas tersebut langsung dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhi Prabowo di Terminal Teluk Lamong.

Pelepasan komoditas perikanan ini merupakan rangkaian program Ekspor Raya yang dihelat oleh Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM).

Ekspor Raya secara keseluruhan akan dilaksanakan di 9 pelabuhan di Indonesia, 648 petikemas dari 95 unit pengolah ikan dengan total volume 20.151 ton dan nilai ekonomi Rp1,7 triliun.

Komoditas perikanan itu meliputi rumput laut, udang, rajungan, kepiting, kerapu, kakap, tuna, bawal, gurita, kodok, nila dan sidat.

Di wilayah kerja Pelindo III Group, total petikemas yang diekspor sebanyak 456 dengan wilayah pelabuhan di antaranya Surabaya (TTL dan TPS), Semarang (Tanjung Emas), Banjarmasin (Tri Sakti), Denpasar, dan Bima.

Terminal Teluk Lamong, sebagai pelabuhan pertama di Indonesia yang berkonsep green and smart port, dinilai mampu memberikan dorongan positif bagi kelancaran dan pertumbuhan ekspor di sektor perikanan.

TTL memiliki sistem operasional berbasis ICT (Information, Communciation and Technology). Peralatan yang digunakan juga berbasis otomasi dan paling canggih di Indonesia.

Dengan infrastruktur terminal yang modern, kapasitas yang besar, serta sistem operasional berbasis digital, dapat memberikan kemudahan dan percepatan dalam pelayanan.

Selain itu, TTL memiliki fasilitas Reefer Plug sebanyak 300 unit, untuk memastikan petikemas dengan temperatur (di bawah 0 derajat ) tetap terjaga suhunya.

Untuk komoditi perikanan, semua menggunakan reefer container. “Terminal ini sangat canggih dan bersih. Ini salah satu poin mengapa kami memilih Teluk Lamong,“ ujar Edhi Prabowo.

Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 22 Mei 2015, TTL mendapat perhatian khusus dari pelaku bisnis kepelabuhanan. TTL diharapkan menjadi pioner dalam membangun pelabuhan yang modern, canggih dan ramah lingkungan.

Sistem operasional dan dukungan peralatan yang canggih dapat memberikan nilai lebih dalam pelayanan logistik kepada pengguna jasa.

Pengiriman ekspor tentu akan lebih mudah ketika pelabuhan memberlakukan pelayanan 24 jam 7 hari, dengan sistem online booking dan otomasi peralatan, sebagaimana yang dilakukan oleh Teluk lamong.

Joko Noerhuda, Direktur Teknik Pelindo III, menegaskan Pelindo III siap membantu dan mendorong kelancaran dan percepatan ekspor perikanan.

“Fasilitas dan peralatan serta sistem operasi pelabuhan di wilayah Pelindo III mengedepankan pelayan prima yang berbasis pada kepuasan pelanggan. Sehingga, kami siap mendorong program pemerintah, khususnya kegiatan ekspor,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Edhi Prabowo mengatakan potensi hasil perikanan di Indonesia sangat besar dan butuh dukungan saluran distribusi untuk pengiriman ekspor, salah satunya pelabuhan.

“Pelabuhan semestinya dibuat seperti ini. Bisa mendorong percepatan ekspor kita” jelas Edhi menanggapi pertanyaan media tentang kesiapan Teluk lamong.

Untuk mendukung kegiatan ekspor perikanan, Terminal Teluk Lamong menyediakan pelayanan 24 jam 7 hari melalui transaksi berbasis digital dan peralatan automatic crane. (hlz/hlz)


Komentar