Jumat, 06 Desember 2019 | 22:58 WIB

Visit our social media :
Home / Regulation / Logistics
Senin, 25 November 2019 16:12

Tingkatkan Kinerja Logistik Nasional, Pelaku Logistik dan Industri Perlu Gandeng Perguruan Tinggi

Translog Today

SOLO - Pelaku usaha logistik dan industri perlu berkolaborasi dengan perguruan tinggi guna meningkatkan kinerja logistik nasional sehingga dapat mendorong investasi dan daya saing ekspor komoditas unggulan di pasar global.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, sinergi pelaku usaha logistik dengan industri dapat memungkinkan untuk membangun eksosistem logistik yang komprehansif dan efisien.

“Bila ekosistem logistik yang efisien terwujud, maka dapat mendorong investasi serta meningkatkan ekspor, sehingga defisit neraca perdagangan yang beberapa tahun terakhir dialami Indonesia dapat diatasi. Bahkan, neraca perdagangan internasional Indonesia akan lebih sehat atau positif,” katanya dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimpas) DPP ALFI/ILFA di Solo, Jawa Tengah, Jumat (22/11).

Rapimnas ALFI/ILFA yang digelar di Gedung PT Sritex itu mengambil tema “Langkah strategis Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan SDM dalam rangka mendorong investasi dan ekspor”.

Acara dihadiri Dewan Pengurus Wilayah (DPW) ALFI/ILFA seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua. Yukki mengatakan, perekonomian global saat ini melemah, penuh ketidakpastian, akibat perang dagang antara China dengan Amerika Serikat.

Kondisi ini berdampak pada perdagangan internasional Indonesia karena dua negara tersebut merupakan tujuan utama ekspor.

Perang dagang China-AS tersebut berdampak kepada menurunnya kinerja beberapa industri nasional seperti industri otomotif, industri elektronik (komputer), industri pertanian, industri tekstil dan produk tekstil.

Selanjutnya kinerja perdagangan internasional (ekspor dan impor) Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan hingga kuartal II tahun 2019 mencapai US$ 8,4 miliar.

Maka dari itu, tutur Yukki, Indonesia perlu meningkatkan ekspor secara signifikan karena dalam lima tahun terakhir hanya tumbuh rata-rata sekitar 7%.

“Untuk meningkatkan ekspor memang tidak mudah karena banyak permasalahan yang harus diperbaiki, terutama kebijakan instansi pemerintah terkait, kualitas, kualitas produk dan perlunya memperbaiki saya saing setiap komoditas ekspor,” ujarnya.

Salah satu faktor yang bisa menaikkan daya saing produk ekspor Indonesia adalah memperbaiki ekosistem logistik komoditas ekspor secara menyeluruh, dengan membangun ekosistem manajemen rantai pasok (supply chain).

Untuk mewujudkan ekosistem logistik yang efisien diperlukan kolaborasi seluruh kepentingan seperti pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Selain itu, lanjut Yukki, untuk menjalankan ekosistem logistik yang efisien di samping diperlukan sistem informasi dan komunikasi elektronik yang terintegrasi diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. “Di sinilah pentingnya lembaga pendidikan kejuruan dan perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM,” tegasnya.

Namun itu belum cukup, membangun ekosistem logistik yang efisien diperlukan badan ad hoc di bawah presiden karena melibatkan 15 kementerian dan 3 lembaga negara.

“Badan inilah yang berfungsi untuk mensinkronkan bebagai kebijakan dan menyederhanakan regulasi terkait dengan ekosistem logistik nasional,” kata Yukki.

Selanjutnya, menurut Yukki, permasalahan lain yang juga dibutuhkan untuk membangun ekosistem logistik nasional yang efisien adalah pengembangan infrastruktur (hard dan soft infrastructure).

Pengembangan hard infrastructure mencakup pembangunan pelabuhan, bandara, jalan dan pusat logistik dan terkoneksi dengan baik.

Adapun soft infrastructure mencakup sistem informasi dan komunikasi elektronik yang terintergrasi dengan seluruh pemangku kepentingan (platform) untuk memperlancar pertukaran dokumen dan sistem transaksi. (ams) (hlz/hlz)


Komentar