Senin, 20 Januari 2020 | 02:02 WIB

Visit our social media :
Home / Regulation / Logistics
Selasa, 03 Desember 2019 13:25

Dukung Program NLE di CEISA, ALFI: Platform Digital Butuh Kolaborasi dan Sinergi

Translog Today

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan sedang mengembangkan National Logistic Ecosystem (NLE) dalam Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) yang telah dijalankan Ditjen Bea dan Cukai.

NLE dalam platform CEISA ini untuk mempertemukan pelaku usaha logistik, baik ekspor maupun impor, di dalam satu platform untuk saling bertukar informasi dengan konsep API (Application Programming Interface).

CEISA adalah sistem Integrasi seluruh layanan Ditjen Bea Cukai kepada semua pengguna jasa yang besifat publik sehingga semua pengguna jasa sebagai user dapat mengakses dari manapun dan kapanpun selama tersambung ke internet.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, pelaku usaha logistik mengapresiasi berbagai kebijakan Bea Cukai untuk memperlancar proses logistik dan perdagangan internasional, termasuk CEISA.

Kebijakan Bea Cukai itu, antara lain advance manifest system, export simplification for CBU Vehicles, web-based import and export system, export simplification for CPO and drivatives, D/O Online System, elektronik SKA, TPS Online System, serta autogate system.

Sayangnya, tutur Yukki, berbagai kebijakan dan platform digital yang dibangun hingga kini belum mampu mengangkat peringkat LPI (Logistics Performance Index) Indonesia.

Pada 2018, Indonesia masih menempati urutan ke 46, berada di bawah Negara ASEAN lainnya, seperti Malaysa (41), Vietnam (39), Thailand (17) dan Singapura (7).

Menurut Yukki, kondisi ini disebabkan belum adanya platform digital yang mempertemukan pelaku usaha sektor logistik dari sisi permintaan dan persediaan, sehingga timbul informasi asimetris.

Smart Logistics

Menanggapi pengembangan NLE, dia menyatakan siap mendukung program tersebut. Apalagi ALFI telah membangun ecosystem collaboration melalui pengembangan digitalisasi Smart Logistics dalam Website ALFI (ilfa.or.id) dan terkoneksi dengan platform digital yang disebut Digico (digico.id).

"Pengembangannya telah dilakukan secara bertahap, saat ini modul yang siap adalah modul impor, ekspor, track and trace, yang mencakup lebih dari 150 negara. Berikutnya pengembangan rantai pasok sampai dengan ke last mile delivery," ungkapnya.

Tahap awal track and trace yang saat ini dikembangkan ALFI meliputi transport laut, darat dan udara. Selanjutnya akan kembangkan di IoT (Internet of Things), pergudangan, depo dan data exchange (pertukaran data) cross border.

"Tidak lupa sektor perbankan dan asuransi untuk menunjang Trade Financing, selain ALFI juga melakukan kerja sama dengan Peruri Digital Security untuk aspek keamanan digital," ujar Yukki

Dia mengatakan kata kunci dari platform layanan itu adalah collaboration, dimana konektivitas digital ini bisa dilakukan secara seamless dan end to end tanpa ada proses intervensi manual.

"Dalam era keterbukaan saat ini tidak ada yang bisa bergerak sendiri dan dibutuhkan kolaborasi baik dari dalam maupun luar negeri. Kolaborasi digital platform penting sehingga menjadi satu ecosystem akan membuat seamless synergy di antara para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta, kata Yukki. (hlz/hlz)


Komentar