Sabtu, 19 September 2020 | 00:44 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Jumat, 24 Januari 2020 21:48

Cegah Abandon, IMLOW: Cekal Importir Limbah Plastik di Tanjung Priok

Translog Today

JAKARTA - Pemerintah diminta segera menindak tegas ribuan kontainer impor limbah plastik yang mangkrak dan diduga mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Achmad Ridwan Tento, Sekjen Indonesia Maritime Transportation and Logistic Watch (IMLOW), mengatakan importir yang mengimpor limbah plastik itu harus bertanggung jawab, jangan sampai ribuan kontainer bermasalah tersebut ditelantarkan (abandon) oleh pemiliknya.

Dia meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengirimkan surat kepada Kementerian Hukum dan HAM dalam hal ini Dirjen Imigrasi untuk mencekal para direksi importir itu bepergian keluar negeri.

“Untuk menghindari terjadinya abandon, importirnya harus segera dicekal untuk pergi keluar negeri. Bila kontainer limbah plastik ini di-abandon, siapa yang bertanggung jawab untuk mereekspor,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (24/1).

Ridwan

Hingga saat ini, ribuan kontainer limbah plastik yang diduga mengandung B3 itu masih mangkrak di wilayah pabean Pelabuhan Tanjung Priok.

Berdasarkan data Ditjen Bea dan Cukai, terdapat 1.024 bok kontainer impor yang diduga berisi limbah plastik di Pelabuhan Tanjung Priok.

Dari jumlah itu, 14 kontainer memenuhi syarat, 2 kontainer telah di-reekspor oleh PT PDPM, sementara 1.008 kontainer belum diajukan pemberitahuan pabeannya.

Ribuan kontainer limbah plastik itu masuk dari berbagai negara, antara lain Australia, Belgia, Perancis, Jerman, Yunani, Belanda, Slovenia, Amerika Serikat, Selandia Baru, Hong Kong, dan United Kingdom.

Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok juga telah menginstruksikan kepada tiga importir untuk menyelesaikan pengurusan dokumen kepabeanan dan kewajibannya terhadap ribuan kontainer limbah plastik tersebut.

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Jece Julita Piris mengatakan, instansinya telah memanggil tiga importir pemilik kontainer bermasalah itu, yakni PT New Harvestindo International, PT Harvestindo International, dan PT Advance Recycle Tecnology.

Pada Kamis (23/1), pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI, Kementerian LHK, serta Kementerian Perdagangan dan Bea Cukai melakukan sidak di lokasi kontainer berisi limbah plastik itu.

Sempat terjadi perdebatan antara rombongan dan perwakilan pemilik kontainer impor itu lantaran perwakilan menyebutkan barang tersebut bukanlah sampah melainkan bahan baku yang akan didaur ulang menjadi plastik.

“Orang juga sudah tahu ini bukan bahan baku, tapi sampah. Ini masih tampak luar, bagaimana kalau di bagian dalam ada limbah medis atau berbahaya lainnya,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi yang juga kepala rombongan saat sidak.

Komisi IV DPR juga meminta agar kontainer impor itu segera direekspor, serta memperbaiki aturan perdagangannya dan evaluasi kerja lembaga surveyor yang terlibat. (hlz/hlz)


Komentar