Rabu, 03 Juni 2020 | 22:39 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Rabu, 01 April 2020 19:54

PSBB Berlaku, Layanan Ekspor-Impor di Pelabuhan Tanjung Priok Tetap Jalan

Translog Today
Edhy Prabowo mengunjungi TPK Koja melepas ekspor perikanan (IPC)

JAKARTA - Aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan, meskipun Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mempercepat penanganan wabah virus Corona (Covid-19).

Hari ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengunjungi Terminal Peti Kemas (TPK) Koja Pelabuhan Tanjung Priok untuk melepas ekspor hasil perikanan sebanyak 3.200 ton dengan nilai Rp194,6 miliar.

Ekspor hasil perikanan yang kebanyakan udang dan ikan beku beserta olahannya itu diangkut dengan menggunakan KM OOCL Guangzhou ke 13 negara tujuan, yakni Prancis, Jerman, Itali, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Mauritus, Reunion, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam dan Lithuania.

“Sekali lagi kami pastikan bahwa layanan ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Priok tetap berjalan, di tengah pembatasan aktivitas masyarakat,” kata Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC Rima Novianti, yang mendampingi Menteri Edhy di TPK Koja, Rabu (1/4).

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina dan General Manager TPK Koja Hudadi S. Jayanagara.

Rima menjelaskan, hingga saat ini IPC masih memberlakukan prosedur kesiapsiagaan dan pencegahan COVID-19 dengan antisipasi tinggi untuk melindungi semua petugas lapangan.

Adapun terkait dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diputuskan kemarin, IPC terus mencermati arahan dan pengaturan lebih lanjut dari pemerintah.

“Sejauh ini belum ada prosedur khusus terkait PSBB di terminal peti kemas. Sebagai operator pelabuhan, IPC tentu siap menyesuaikan jika pemberlakuan PSBB ini berdampak terhadap operasional dan aktivitas logistik di pelabuhan,” ujar Rima.

Menurut GM TPK Koja Hudadi, interaksi antar-manusia di terminal peti kemas semakin jauh berkurang. Di TPK Koja, misalnya, tenaga manusia yang bertugas di dermaga bisa dihitung dengan jari.

“Semuanya serba digital. Paling yang ada di lapangan adalah operator crane dan petugas tally, yang mengatur lalu lintas peti kemas dari kapal ke lapangan penumpukan kontainer. Pergerakan peti kemas itu sendiri dioperasikan dengan menggunakan alat-alat berat modern, yang dikontrol secara digital,” jelasnya.

Untuk memastikan keamanan dan keselamatan petugas operator di lapangan, sejak Februari lalu IPC sudah menerapkan prosedur tambahan, seperti kewajiban pemakaian alat pelindung diri (APD) yang aman dan steril. Secara berkala, petugas juga melakukan sterilisasi di sekitar dermaga. (hlz/hlz)


Komentar