Sabtu, 30 Mei 2020 | 02:51 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Railway
Rabu, 01 April 2020 18:51

Mendukung Rencana Cerdas KAI Angkut Batubara dari Pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap

Harijanto

JAKARTA - Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero)/KAI Daerah Operasi III Cirebon untuk melakukan pengangkutan batubara dari Pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap merupakan rencana yang sangat bagus, baik bagi KAI sendiri maupun Pelabuhan Cirebon, pelaku usaha dan industri.

Terlebih lagi bagi pemerintah daerah dan pusat karena akan mengurangi beban biaya pemeliharaan jalan yang selama ini dilewati oleh hampir 300 truk pangangkut batubara dengan beban rata-rata 30 ton per truk melalui jalan Kota Cirebon.

Saat ini, guna memenuhi kebutuhan listrik untuk industri tekstil di Bandung dan industri semen di Cilacap, para pengusaha batubara menyuplai pasokan dari Kalimantan melalui Pelabuhan Cirebon dengan menggunakan kapal tongkang. Dari sana, pengangkutan batubara diteruskan menggunakan truk menuju Bandung dan Cilacap.

Setelah selesai dan beroperasinya double track (jalur ganda) serta telah tersedianya lokomotif dan gerbong yang cukup untuk mengangkut batubara, sebenarnya KAI sudah sangat siap dan mampu dalam melaksanakan alih moda transportasi pengangkutan batubara dari Pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap.

Apalagi rencana tersebut sebenarnya sudah lama ditunggu-tunggu dan diharapkan, baik itu oleh pelaku bisnis batubara maupun Pelabuhan Cirebon.

Mengapa demikian? Pelaku bisnis lebih diuntungkan dari pola pengangkutan menggunakan kereta api karena kapasitas angkut cukup besar. Sekali angkut bisa mencapai 600 ton dan keuntungan yang lain adalah kecepatan dan tarif pengangkutan akan jauh lebih murah.

Kemudian terhadap Pelabuhan Cirebon keuntungan yang akan didapat dan diperoleh bila menggunakan kereta api. Pelabuhan Cirebon mendapatkan tambahan pelayanan baru yaitu pendapatan dari cargo doring (kegiatan mengeluarkan muatan/barang dari dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang penumpukan dan sebaliknya) serta pendapatan dari penumpukan di gudang dan pendapatan receiving/delivery.

Mengapa gudang sebagai tempat penumpukan barubara, bukan lapangan?

Penumpukan batubara di lapangan sudah tidak diperbolehkan selain akan mengganggu lingkungan juga adanya kesepakatan antara Pemerintah Kota Cirebon, Otoritas Pelabuhan Cirebon dan pelabuhan Cirebon (IPC) serta masyarakat sekitar pelabuhan.

Dengan demikian, untuk memungkinkannya rencana KAI Daops III Cirebon melakukan pengangkutan batubara dari Pelabuhan Cirebon ke Bandung dan Cilacap harus terlebih dahulu menyiapkan gudang untuk penumpukan batubara di samping dermaga.

Pasalnya, gudang penumpukan yang ada saat ini hanya seluas 5.000 m2 di Muara Jati I tentunya tidak memadai untuk mem-backup volume penumpukan batubara. KAI harus menyiapkan gudang baru bekerja sama dengan Pelabuhan Cirebon.

Lokasi yang memungkinkan pembangunan gudang baru di depan dermaga Muara Jati II. Yang perlu juga mendapatkan perhatian serius lainnya dari KAI yaitu jalur track atau rel kereta yang menghubungkan stasiun kereta kota Cirebon ke dermaga Pelabuhan Cirebon sudah banyak yang terputus dan alih fungsi, salah satunya telah berdiri RS Pelabuhan di atasnya sepanjang jalan Sisingamangaraja daerah Panjunan.

Di sini peran serta beberapa pihak harus dilibatkan, terutama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Cirebon. Saat ini pengangkutan batubara dari pelabuhan Cirebon mencapai 3,4 juta ton per tahun.

Tarif truk pengangkutan dari Pelabuhan Cirebon ke Bandung rata-rata Rp100.000 per ton. Bila dijumlahkan, biaya transportasi tersebut dalam satu tahun adalah sebesar Rp340 miliar.

Belum lagi bila dihitung pengeluaran pelaku usaha batubara ke tempat stockpile yang jaraknya 10 km, tepatnya di sepanjang daerah Nember Kanci, tentunya pengeluaran tersebut akan lebih besar lagi.

Perlu diketahui bahwa batubara sebelum diangkut ke Bandung dan Cilacap harus terlebih dahulu ditumpuk di stockpilestockpile tersebut berada di sepanjang wilayah Kanci berjarak 10 km dari Pelabuhan Cirebon. Di sana terdapat hampir 11 stock file. Baru dari stock file diangkut ke Bandung dan Cilacap.

Sebenarnya angkutan batubara dengan menggunakan kereta api bukanlah hal yang baru. Di beberapa daerah seperti Banten, Bogor dan di Sumatera Selatan sudah lama menggunakan angkutan kereta api, khususnya angkutan batubara.

Distribusi batubara di Jawa lebih ditujukan untuk pasokan kebutuhan bahan bakar industri dalam negeri, sedangkan di Sumatera didistribusikan untuk kebutuhan dalam negeri dan impor ke beberapa negara.

Pada 2017, KAI dapat mengangkut batubara sebesar 27,8 juta ton. Di daerah-daerah lainnya, pengangkutan batubara sudah tidak diizinkan lagi menggunakan truk. Selain sudah tidak efektif dan efisien, juga memakan anggaran biaya pemeliharaan jalan yang nilainya tidak sedikit serta mengurangi kepadatan lalu lintas.

Dampak lainnya, memperpanjang usia jalan dan mengurangi tercecernya serpihan batubara di sepanjang jalan yang dilaluinya sehingga menimbulkan bahaya bagi pengguna jalan lainnya.

Dukungan kepada KAI dari pemerintah dan pelaku usaha merupakan langkah yang sangat strategis untuk penataan moda transportasi dan kemajuan bagi keberlangsungan transportasi yang berkelanjutan.

Penulis adalah Direktur Eksekutif HMPM


(hlz/hlz)


Komentar