Sabtu, 30 Mei 2020 | 02:12 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Airport
Jumat, 03 April 2020 14:24

Dampak Covid-19, Operasional Bandara Angkasa Pura II Dipangkas

Translog Today
(AP II)

JAKARTA - PT Angkasa Pura II (Persero) menyesuaikan pola operasional seluruh bandara di bawah pengelolaannya sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan Covid-19.

Penyesuaian pola operasional yang dimulai sejak 1 April 2020 itu dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan tren pergerakan penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan di masing-masing bandara.

Melalui strategi penyesuaian pola operasional, setiap bandara dapat melakukan optimalisasi terhadap fasilitas dan personel, sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan untuk melakukan pengkondisian alur penumpang di bandara agar physical distancing dapat tetap dilakukan.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan penyesuaian pola operasional bertujuan untuk menjaga aspek kesehatan dari penumpang pesawat, pengunjung bandara, dan pekerja di bandara.

Awaluddin mengungkapkan bandara yang sudah menyesuaikan pola operasional di tengah tantangan Covid-19 adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sejak 1 April 2020, Soekarno-Hatta melakukan pembatasan operasional di Terminal 1 dengan hanya membuka Sub Terminal 1A, serta di Terminal 2 dengan hanya membuka Sub Terminal 2D dan 2E. Maskapai yang biasa beroperasi di Sub Terminal 2F dipindah sementara ke Terminal 3.

“Soekarno-Hatta sudah melakukan penyesuaian pola operasional. Dengan melakukan pembatasan operasional di terminal, maka alur penumpang di keseluruhan bandara otomatis lebih sederhana dan membuat pemeriksaan keamanan serta pengawasan kesehatan dapat lebih optimal,” ujarnya.

Pola penyesuaian operasional seperti di Soekarno-Hatta juga sudah diterapkan di bandara lain di bawah AP II. Melalui strategi ini, bandara-bandara AP II bisa beroperasi optimal dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, keamanan, pelayanan serta pematuhan terhadap peraturan di tengah pandemi Covid-19.

Adapun fasilitas yang dapat diminimalkan guna pengkondisian dan penyederhanaan alur penumpang adalah yang non-prioritas seperti misalnya lift, travellator, eskalator, lampu penerangan dan lain sebagainya.

Sistem Roster

Terkait dengan penyesuaian pola operasional ini, AP II juga memberlakukan optimalisasi SDM Operasional, di mana diberlakukan sistem roster dinas bagi karyawan yang bertugas dalam mendukung operasional bandara.

“Adanya sistem roster ini membuat karyawan di operasional bandara bisa memiliki waktu bekerja di rumah sehingga risiko terpapar virus berkurang. Di saat seperti ini sudah sewajarnya aspek kesehatan menjadi prioritas,” ujar Awaluddin.

Saat ini berlaku 4 kategori status operasional bandara yang diterapkan di bandara-bandara AP II, yaitu kategori status operasi: Normal Operation, Slow Down Operation, Minimum Operation dan Terminate Operation.

Masing masing kategori status operasi bandara menunjukkan jumlah personel, jam operasi dan sumber daya (resources) yang beroperasi memgelola bandara dalam masa wabah Covid-19 ini.

Dengan memperhatikan tren pergerakan penumpang serta penetapan Status Masa Tanggap Keadaan Darurat Covid-19 di tingkat nasional dari 29 Februari – 29 Mei 2020, dan Keputusan Menkes No. HK.01.07/MENKES/104/2020 jo SE Dirjen Perhubungan Udara No.6 Tahun 2020 terkait dengan meluasnya penyebaran wabah Covid-19, maka dilakukan penyesuaian kategori status operasi bandara sebagai berikut:

Slow Down Operation
1. Silangit di Tapanuli Utara
2. Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang
3. Minangkabau di Padang

Minimum Operation
1. Soekarno-Hatta di Tangerang
2. Sultan Iskandar Muda di Aceh
3. Kualanamu di Deli Serdang
4. Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru
5. Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang
6. Fatmawati Soekarno di Bengkulu
7. HAS Hanandjoeddin di Belitung
8. Sultan Thaha di Jambi
9. Husein Sastranegara di Bandung
10. Banyuwangi
11. Supadio di Pontianak
12. Tjilik Riwut di Palangkaraya
13. Kertajati di Majalengka
14. Raden Inten di Lampung
15. Depati Amir di Pangkalpinang
16. Halim Perdanakusuma di Jakarta (hlz/hlz)


Komentar